Mengunjungi “UI Connection” di Surabaya

You call out to God for help and he helps—he’s a good Father that way. But don’t forget, he’s also a responsible Father, and won’t let you get by with sloppy living. Your life is a journey you must travel with a deep consciousness of God.

Usai rapat Pimsubreg di Bandung 2-5 Sep, kami meluncur ke Surabaya/Sidoarjo tanggal 6.

Pertanyaan “berapa lama” tidak relevan… yang penting menikmati perjalanan dan aman. Titik kotak adalah perhentian (ada 8, termasuk 3 kali tidur, karena malam sebelumnya hanya tidur 3 jam)

Tujuan nomor satu adalah mengunjungi kel mas Jarot-Melva yang baru pindah awal tahun ini dari TBK. Jadi landing kami di Sidoarjo, tempat tinggal mereka (sementara). Dulu, Jarot ini kuliah di STAN Bintaro, tetapi rajin ke Depok, maybe tiap weekend ya, untuk PA, olahraga dan menikmati waktu dg teman-teman.


Tujuan kedua, yang sama dengan itu, adalah ketemu Yuli (Binus98)!!!! 🙂

Kapan terakhir ketemu? Tidak ingat, mungkin karena begitu lamanya… Yang jelas pernah ketemu di sekitaran Binus (tempat kuliah mereka, tempat kost si koko Jemmy -UI97- usai lulus UI), ketika saya antar Jemmy pindahan dari Depok ke Kemanggisan.

Kata Yuli, dia pernah main ke rumah kami yang di Beji Timur (itu berarti tahun dalam tahun 2001-2004. Yuli kuliah di Binus tahun 1998).

Yuli baru buka usaha Chi Fry di Trans Icon (Gayungan, Surabaya). Silakan teman-teman mampir ya di https://goo.gl/maps/m5ggtNJMb8XGrJ7F8. 🙂


Yang ketiga ini enggak sengaja. Rupanya Imelda Sitinjak barusan landing di Surabaya untuk studi S3 di Unair. Dulu S2 di UI Depok. 🙂 Begitu tahu dia di Surabaya, ya kami meluncur lah.

Tampaknya anak-anak antusias juga. Tinggal bapaknya gimana nanti. 🙂

Rupanya Imelda sebelah rumah ama bos Handy-Endah ya… punteun….


Yang ini bonus, baru kontak-kontakan mendadak, beliau langsung menyediakan dirinya dikunjungi. Dan seperti orang Jawa klasik: suguhan ndlidir (mengalir), padahal suguhan dari tetangga sebelah (alias warung-warung)… siomay, gado-gado, rujak cingur.

Beliau adalah mas Kristyan, teman SMA yang belum pernah jumpa seusai lulus SMA. Itu berarti tak pernah jumpa fisik lebih dari 35 tahun! Sekarang beliau bekerja sbg dosen PNS yang ditempatkan di Univ Moestopo.


Demikian laporan singkat kunjungan teman-teman lama khususnya UI Connection di Surabaya/Sidoarjo. Maaf waktu singkat, masih ada kel Anung, kel Yudi. Nuwun sewu gak sempat jumpa.

Teman-teman lain di Surabaya, kami gak bisa jumpai, karena seperti kata mas Hari: kalau gak bawa oleh-oleh, enggak usah bilang-bilang!!! (sementara oleh-oleh kami hanya cukup untuk beberapa orang di atas :))

Pelajaran. Tanpa bermaksud menarik pelajaran, tetapi tetap saja ada pelajaran bagi saya. 🙂

  1. Pertemuan darat adalah segalanya. 🙂 Banyak hal indah ada di sana.
  2. Terlalu banyak koneksi hubungan kita, tetapi koneksi lokal (darat) adalah utama. Dimana pun saya pergi/menetap, apakah saya terhubung dengan komunitas tubuh Kristus lokal? (Apakah juga ada komunitas Nav lokal?)
  3. Koneksi kita juga dengan semua orang yang Tuhan berikan di sekitar kita. Koneksi yang membuka kasih mengalir dan berkat Abraham sampai kepada semua orang.
  4. Tuhan yang pada akhirnya kita tahu paling care dengan kita yang begitu unik dan mobile serta rentan (apalagi dg kejadian covid kemarin). Tuhan beserta kita dimana saja.
  5. Pergumulan-pergumulan hidup kita adalah nyata: anak, karir, hubungan dengan teman-teman lama, dst…. Dengan segala keterbukaan dan keriangan, mari kita menyambutnya, melewatinya dan memenanginya. 🙂

You call out to God for help and he helps—he’s a good Father that way. But don’t forget, he’s also a responsible Father, and won’t let you get by with sloppy living. Your life is a journey you must travel with a deep consciousness of God.

1Pet 1:17 (MSG)

One of My Stories (2007): Not Unstoppable

Within six months I was OFF from all ministry activities… It was like entering a period of “eating grass in the field”…

This testimony was prepared as an introduction to sharing lessons at ILG, June 2022, on the theme: Leading by Influence: Leading from Brokenness. Translated by Google, refined by -mostly- Elsa Siahaan.

In 2007 I was in great enthusiasm for the growing ministry, both local and regional and national ministries. By then I had been on the staff (with The Navs) for over 13 years. And in 2007 I was about to be  40, the age that is said: never dies… or like the Sia’s song: Unstoppable – like a porsche, don’t need batteries to play. 😊

At that time,  during a final trip to Kuala Lumpur/KL in March 2007, as usual I  visited one or two cities beforehand: Batam and Singapore. I traveled alone. It was in Singapore that my journey came to a halt. 

—

While walking with a friend on Orchard Road (afternoon after lunch), my vision suddenly disappeared (I experienced a blackout), not dark but actually white. And I was about to fall unconscious, but was supported by the friend. Without heeding the traffic signs, my friend carried me across the road and we went into the nearest hospital: Mt Elizabeth Hospital.

My pulse/heart beat seemed very irregular and very fast, maybe 200bpm on average. That was what made me want to faint earlier, because the oxygen supply was not smooth. I was injected with medicine and monitored for 24 hours. About 5-6 hours later, my heart rate returned back to normal.

That night I was offered sleeping pills, but I didn’t  take them, just because I’m not used to taking medicine. I’ve never been hospitalized before, and am the type who doesn’t like to take any medication.

I apparently couldn’t sleep that night which made it a long night and full of inner struggles. My mind drifted away to new things, some were the little things I have missed as the time went by. I incidentally did not bring a notebook, because I usually write down what I meditate on. Then the hospital tissue was the medium to write down the main thoughts that came to mind that night.

I was only hospitalized for one night where the next morning the doctor discharged me. The doctor said: you can go home, you can exercise again as usual, continue your trip, and so on. …. But I have become a very different person since then.  

I felt  both unable to continue the trip to KL nor to return to Indonesia. I felt very weak physically, very down and a bit confused with my condition. Then I stayed with one  family of Nav Indonesia alumni. My strangest condition at that time was feeling mentally down, experiencing fear and panic easily. At that time my friend was working (at his office), while  I was at home alone… and out of panic, sometimes I called him at the office asking: when are you coming home? I felt that  I couldn’t seem to be left at home alone.

In addition, I also felt physically  very weak. Even going up and down the stairs was difficult/hard.

However,  I realized that I had to go home. At that time I did not tell my wife in Jakarta the details about my condition.

The trip home at that time was the most difficult one among other trips. I felt so weak that I was not able to lift my own  luggage,  so I needed my friend’s help to check in the luggage. At CGK airport in Jakarta, two good friends were ready to welcome me and help me with my luggage (late mas Madyo, and bang Yona). 

—

In Jakarta, I still often had a similar physical condition where my heart suddenly beat abnormally and rapidly, only to recover a few up to  5 hours later. I marked my calendar when the arrhythmia attacked, and how heavy. After weeks, months, the situation was getting lighter. But in one month, Nov 2007, another serious arrhythmia attacked again and I had to be hospitalized again for one night. But after that, I started to accept my  condition and was ready with the arrhythmia even though it was severe.

Along with that physical condition, it felt heavier that my mental state was very down. Maybe I was not just burnt out… Maybe I was depressed, … but I didn’t consult a professional. There was no such mechanism at that time. 😀 So I  had to face it by myself and felt that I was on my own.  Within six months I was OFF from all ministry activities… It was like entering a period of “eating grass in the field”…

What had been said about me came true at once. I was driven away from people. I ate grass just as cattle do. My body became wet with the dew of heaven. I stayed that way until my hair grew like the feathers of an eagle. My nails became like the claws of a bird.  

Dan 4:33

I used to live on the 2nd floor, but due to my weak physical condition, I moved to the 1st floor. My wife and son (at that time 12years old) were on the 2nd floor. I was mentally very weak. I could often suddenly cry for no reason, loud and prolonged crying… hours. (Now when I think about it, I’m confused about how I could be like that. 😀)

Visits from some friends didn’t seem to have a positive effect at that time. Sometimes I even refused to meet guests or even receive phone calls, because their words often stressed me more.

Those months were the time when I struggled with the difficult situation. Trying to find a comprehensive solution… physically, attitude, emotionally, etc… changing the pattern of life (exercise, food, etc.). Reassess attitudes and outlook on life.

Ultah ke-28 #2

Kami akan menolong Bapak dan keluarga sampai habis-habisan

Setya, bukan Pontius Pilatus :)

Bapak itu (bapak mertua, red) sebelum saya nikah, panggil saya “nak Setya”, tetapi setelah kami nikah, dia panggil saya: “mas Setya”… hormat banget ya sama orang muda. 🙏🏼

Meski List tidak sempat kerja cukup berarti setelah lulus (tidak cukup lama, dan tidak cukup menghasilkan, red), karena 1 Agt 1994 kami berdua langsung kerja di yayasan nirlaba (gaji kecil, red), … tetapi di dalam hati saya sebenarnya ada janji: kami akan menolong Bapak dan keluarga sampai habis-habisan.

Catatan Sipil, beberapa hari setelah pemberkatan

Bapak pernah dalam situasi keuangan/kehidupan yang sangat sulit sbg orang tua. Dan malam-malam dia bilang: mas Setya, tolong diurus saja semua ini. …. Meski dengan mengencangkan ikat pinggang sangat ketat bertahun-tahun kemudian, tetapi masalah itu berhasil juga kami atasi. Dan setelah itu, ada banyak lagi cerita seperti itu.

Meski List anak ke-4 (dan saya anak ke-8), alhamdulillah kami bisa melakukan peran yang cukup berarti di keluarga (diberi kemampuan, meski tidak mudah)… dalam hal finansial, dalam hal emosional, dan hal-hal lain…

The church, you see, is not peripheral to the world; the world is peripheral to the church. The church is Christ’s body, in which he speaks and acts, by which he fills everything with his presence. 

Eph 1:23

Bahkan akhirnya Bapak nyaman tinggal dg kami, dan akhirnya meninggal, di Depok, Juni 2006. Beberapa waktu sebelumnya, beliau sempat berkata: kapan kalian punya rumah? Tetapi dia tidak mengatakannya kepada saya,… sopan santunnya mungkin begitu ya? Beliau katakan kepada borunya ini. Saya berandai-andai, … kalau sempat beliau katakan hal itu kepada saya, mungkin akan saya jawab: kalau kami berusaha punya rumah, mungkin kami tidak akan bisa merawat bapak (keluar masuk RS, dll). 😁 #alasan

Jika engkau ikut bersama-sama dengan kami, maka kebaikan yang akan dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu.

Bil 10:32 

Sekian…

Before: http://setylist.paranavigator.org/2022/02/06/ultah-ke-28-1/

Tulisan 13 tahun lalu: https://setyabud.wordpress.com/2010/10/06/15th-anniversary/

Ultah ke-28 #1

Setiap orang memiliki kasih karunia dan jalannya masing-masing. Jalan hidup sangat unik dan spesial. Tuhan memberikan sukacita kepada tiap orang, dalam keadaan apapun ybs berjalan dan hidup.

Setya, Pontius Pilatus?

Setiap orang memiliki kasih karunia dan jalannya masing-masing. Jalan hidup sangat unik dan spesial. Tuhan memberikan sukacita kepada tiap orang, dalam keadaan apapun ybs berjalan dan hidup. Kita masing-masing perlu dan saya yakin sudah menikmati jalan hidup kita masing-masing. Tetapi di samping kita sudah puas, kita tetap perlu mengejar yang terbaik yang masih tersimpan di depan kita. Demi kita makin menikmati sepenuhnya rencana-Nya bagi hidup kita di dunia ini… sampai saatnya nanti kita pulang,… dust to dust, datang telanjang, pulang telanjang, zero to zero. Enjoy this very moment.

katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Ay 1:21 

Saya udah kenal List sejak masuk SMA (1984), dia masuk kelas 1, saya kakak kelas (naik kelas 2). Saya ketua PSK SMAN1 Solo, tahun berikutnya jabatan itu saya serah terimakan ke dia. Tahun 86 saya masuk ITB, th 87 dia masuk ITB. Modal bebas test (kalau pakai test mungkin enggak lolos). Saya masuk regu Eklesia, dia ikut aja juga. 😊

Teman-teman geng Eklesia

Meski sudah kenal lama, tetapi saya baru mikirin dia sbg pacar itu ketika saya udah tingkat akhir (1991, … Saya lulus 1992). Agustus 91 saya tembak (tembakannya kurang bagus, meleset), jawabnya baru Nov 92😊 (umur saya: 25). Perlu jawab lama karena perlu siap betul untuk menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. #candaserius

Begitu dijawab YA. Langsung tancap gas, … nemui bapaknya di Solo: Pak, saya mau nikah dg anak bapak. Jawab: nak Setya, biar List kerja dulu (means: cari uang dulu). Saya: tetapi kami sudah siap nikah, pak (dalam hati: sebenarnya siap apanya sih? hihi). Bapak: ya sudah sana. Orang Jawa mungkin mudah dilobby ya. 😁

Teman-teman geng lain 🙂

Rencana kami nikah akhir 1993, tapi gagal karena ibu List sakit/kecelakaan. Dan akhirnya tetap nikah tetapi mundur sedikit dan dilakukan di Bandung (rencana semula di Solo). Wah. blessing in disguise… Karena dg nikah di Bandung, biaya lebih murah, kebanyakan undang teman-teman saja. Kami nikah di usia 26,5 dan 26.

Oya, setelah bapak setuju, wakil keluarga saya (kami beda kecamatan aja di Solo) datang ke rumah List untuk melamar secara resmi. Setelah itu, semua proses kami yang urusin.

Next: http://setylist.paranavigator.org/2022/02/06/ultah-ke-28-2/