Sway: Pelajaran Komunitas

Kristus yang pertama punya teknik magis untuk menarik hati orang, sehingga terpikat. Tetapi demikian juga kita bisa punya teknik magis untuk menarik orang lain.

Hubungan dalam Allah Tritunggal dari satu sisi bisa digambarkan dengan dansa/tarian di antara pribadi-pribadi tsb. Silakan baca dari artikel ini: Perichoresis – The Divine Dance of the Trinity.

Karena itu, ide tentang dansa/tarian, khususnya dansa/tarian kelompok sangat menarik perhatian saya, khususnya dalam aspek penerapan dalam hubungan antar orang dalam satu komunitas.

Hidup bersama dan kebersamaan dalam Kebenaran/Kristus adalah keseluruhan dinamika kehidupan dan misi hidup kita. Ada daya dorong, pertahanan dari kehancuran, inspirasi, visi, dst banyak hal indah. Di luar itu, waduh celakanya.

Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. 
Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! 
Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? 
Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. 

Pengkhotbah 4:9-12

karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. 

Fil 2:13

Tersedia daya hidup, daya dorong, kalibrator, sustainer, … yaitu Kristus sendiri sebagai Kepala.

Jika ada luka dalam hubungan dan dinamika itu, akan ada kesembuhan… dan seringkali memang perlu waktu. Tenang saja….

From him the whole body, joined and held together by every supporting ligament, grows and builds itself up in love, as each part does its work. 

Eph 4:16 

Sebagai ilustrasi, bentuk “dansa/tarian” lain yang saya lihat misalnya aerial dance seperti di AGT berikut ini:

Suatu gerak langkah yang begitu harmonis dan hidup.

Banyak lagu pop yang berhubungan dengan dansa, misalnya: Dancing Queen, Sway, ….

Ini salah satu versi, dengan klip tarian

Ada beberapa kata dalam lirik lagu Sway yang sangat menarik:

Other dancers may be on the floor
Dear, but my eyes will see only you
Only you have that magic technique
When we sway, I go weak

Make me thrill as only you know how
Sway me smooth, sway me now

Kristus yang pertama punya teknik magis untuk menarik hati orang, sehingga terpikat. Tetapi demikian juga kita bisa punya teknik magis untuk menarik orang lain. Be a blessing.

Catatan lain dari sesi di JakTim, 12 Agt 2023: Catatan ttg Komunitas. Penjelasan-penjelasan dari catatan ini bisa dijelaskan di artikel terpisah.

Tetangga Meninggal

Kawan saya, seperti biasa sebagai pengikut Kristus, mencoba proaktif berkenalan dan mengenal tetangganya/wanita tsb lebih baik.

Seorang kawan di Perth (asli Indonesia), tinggal dengan keluarga kecilnya, tinggal di sebuah klaster kecil perumahan. Tetangga depan, seorang lansia wanita hidup sendirian. Dia bule Australia.

Wanita tsb sangat mandiri, tetapi sebenarnya banyak kelemahan.

Kawan saya, seperti biasa sebagai pengikut Kristus, mencoba proaktif berkenalan dan mengenal tetangganya/wanita tsb lebih baik. Apalagi dengan berbagai kelemahannya, kawan kita ini mencoba menawarkan bantuan apa yang bisa.

Akhirnya wanita tsb -pelan-pelan- bisa menerima uluran tangan kawan kita. Dia mulai bisa nebeng belanja di groseri, dll.

Kawan kita bisa membagikan Kristus bukan hanya dengan kehidupan/perbuatan baik tetapi dengan kata-kata. Bagaimana respons di hati terdalam, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas secara relasi, wanita tsb sudah membuka diri.


Suatu saat… saya lupa persisnya siapa yang duluan punya ide ini, wanita tsb ada rencana perjalanan… mengikuti cruise tour (tur dengan kapal pesiar). Kelihatannya tur seperti itu sangat menarik (bagi para senior)… menyusuri pantai selatan dari barat sampai ke timur.

Wanita tsb perlu bantuan dalam banyak hal: urusan tiket, pembayaran online, dll… Kawan kita membantu sepenuhnya semua urusan tsb.

Di tengah-tengah urusan tsb, wanita itu ditemukan meninggal dunia di rumahnya, setelah sekitar sehari semalam tetangga curiga karena tidak ada tanda-tanda kehidupan dari rumah tsb.

Ya, sedih sekali… Syukurlah kawan kita telah berhasil “mengakses” hidup dan hati wanita tsb.


Cerita sampingannya.

Dalam hukum setempat, jika seseorang meninggal dunia tanpa meninggalkan surat wasiat, maka harta kekayaannya menjadi hak negara. Anak dan keluarga manapun tidak berhak atas harta peninggalan tsb. Karena itu ketika kami datang ke sana (beberapa bulan setelah kejadian), rumah tsb masih kosong dan tidak terurus lagi.


Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan inspirasi buat kita, baik dalam pengelolaan hidup kita, dalam bertetangga/berteman, dll. Tuhan memimpin kehidupan kita. Amin.

Mengunjungi “UI Connection” di Surabaya

You call out to God for help and he helps—he’s a good Father that way. But don’t forget, he’s also a responsible Father, and won’t let you get by with sloppy living. Your life is a journey you must travel with a deep consciousness of God.

Usai rapat Pimsubreg di Bandung 2-5 Sep, kami meluncur ke Surabaya/Sidoarjo tanggal 6.

Pertanyaan “berapa lama” tidak relevan… yang penting menikmati perjalanan dan aman. Titik kotak adalah perhentian (ada 8, termasuk 3 kali tidur, karena malam sebelumnya hanya tidur 3 jam)

Tujuan nomor satu adalah mengunjungi kel mas Jarot-Melva yang baru pindah awal tahun ini dari TBK. Jadi landing kami di Sidoarjo, tempat tinggal mereka (sementara). Dulu, Jarot ini kuliah di STAN Bintaro, tetapi rajin ke Depok, maybe tiap weekend ya, untuk PA, olahraga dan menikmati waktu dg teman-teman.


Tujuan kedua, yang sama dengan itu, adalah ketemu Yuli (Binus98)!!!! 🙂

Kapan terakhir ketemu? Tidak ingat, mungkin karena begitu lamanya… Yang jelas pernah ketemu di sekitaran Binus (tempat kuliah mereka, tempat kost si koko Jemmy -UI97- usai lulus UI), ketika saya antar Jemmy pindahan dari Depok ke Kemanggisan.

Kata Yuli, dia pernah main ke rumah kami yang di Beji Timur (itu berarti tahun dalam tahun 2001-2004. Yuli kuliah di Binus tahun 1998).

Yuli baru buka usaha Chi Fry di Trans Icon (Gayungan, Surabaya). Silakan teman-teman mampir ya di https://goo.gl/maps/m5ggtNJMb8XGrJ7F8. 🙂


Yang ketiga ini enggak sengaja. Rupanya Imelda Sitinjak barusan landing di Surabaya untuk studi S3 di Unair. Dulu S2 di UI Depok. 🙂 Begitu tahu dia di Surabaya, ya kami meluncur lah.

Tampaknya anak-anak antusias juga. Tinggal bapaknya gimana nanti. 🙂

Rupanya Imelda sebelah rumah ama bos Handy-Endah ya… punteun….


Yang ini bonus, baru kontak-kontakan mendadak, beliau langsung menyediakan dirinya dikunjungi. Dan seperti orang Jawa klasik: suguhan ndlidir (mengalir), padahal suguhan dari tetangga sebelah (alias warung-warung)… siomay, gado-gado, rujak cingur.

Beliau adalah mas Kristyan, teman SMA yang belum pernah jumpa seusai lulus SMA. Itu berarti tak pernah jumpa fisik lebih dari 35 tahun! Sekarang beliau bekerja sbg dosen PNS yang ditempatkan di Univ Moestopo.


Demikian laporan singkat kunjungan teman-teman lama khususnya UI Connection di Surabaya/Sidoarjo. Maaf waktu singkat, masih ada kel Anung, kel Yudi. Nuwun sewu gak sempat jumpa.

Teman-teman lain di Surabaya, kami gak bisa jumpai, karena seperti kata mas Hari: kalau gak bawa oleh-oleh, enggak usah bilang-bilang!!! (sementara oleh-oleh kami hanya cukup untuk beberapa orang di atas :))

Pelajaran. Tanpa bermaksud menarik pelajaran, tetapi tetap saja ada pelajaran bagi saya. 🙂

  1. Pertemuan darat adalah segalanya. 🙂 Banyak hal indah ada di sana.
  2. Terlalu banyak koneksi hubungan kita, tetapi koneksi lokal (darat) adalah utama. Dimana pun saya pergi/menetap, apakah saya terhubung dengan komunitas tubuh Kristus lokal? (Apakah juga ada komunitas Nav lokal?)
  3. Koneksi kita juga dengan semua orang yang Tuhan berikan di sekitar kita. Koneksi yang membuka kasih mengalir dan berkat Abraham sampai kepada semua orang.
  4. Tuhan yang pada akhirnya kita tahu paling care dengan kita yang begitu unik dan mobile serta rentan (apalagi dg kejadian covid kemarin). Tuhan beserta kita dimana saja.
  5. Pergumulan-pergumulan hidup kita adalah nyata: anak, karir, hubungan dengan teman-teman lama, dst…. Dengan segala keterbukaan dan keriangan, mari kita menyambutnya, melewatinya dan memenanginya. 🙂

You call out to God for help and he helps—he’s a good Father that way. But don’t forget, he’s also a responsible Father, and won’t let you get by with sloppy living. Your life is a journey you must travel with a deep consciousness of God.

1Pet 1:17 (MSG)

One of My Stories (2007): Not Unstoppable

Within six months I was OFF from all ministry activities… It was like entering a period of “eating grass in the field”…

This testimony was prepared as an introduction to sharing lessons at ILG, June 2022, on the theme: Leading by Influence: Leading from Brokenness. Translated by Google, refined by -mostly- Elsa Siahaan.

In 2007 I was in great enthusiasm for the growing ministry, both local and regional and national ministries. By then I had been on the staff (with The Navs) for over 13 years. And in 2007 I was about to be  40, the age that is said: never dies… or like the Sia’s song: Unstoppable – like a porsche, don’t need batteries to play. 😊

At that time,  during a final trip to Kuala Lumpur/KL in March 2007, as usual I  visited one or two cities beforehand: Batam and Singapore. I traveled alone. It was in Singapore that my journey came to a halt. 

While walking with a friend on Orchard Road (afternoon after lunch), my vision suddenly disappeared (I experienced a blackout), not dark but actually white. And I was about to fall unconscious, but was supported by the friend. Without heeding the traffic signs, my friend carried me across the road and we went into the nearest hospital: Mt Elizabeth Hospital.

My pulse/heart beat seemed very irregular and very fast, maybe 200bpm on average. That was what made me want to faint earlier, because the oxygen supply was not smooth. I was injected with medicine and monitored for 24 hours. About 5-6 hours later, my heart rate returned back to normal.

That night I was offered sleeping pills, but I didn’t  take them, just because I’m not used to taking medicine. I’ve never been hospitalized before, and am the type who doesn’t like to take any medication.

I apparently couldn’t sleep that night which made it a long night and full of inner struggles. My mind drifted away to new things, some were the little things I have missed as the time went by. I incidentally did not bring a notebook, because I usually write down what I meditate on. Then the hospital tissue was the medium to write down the main thoughts that came to mind that night.

I was only hospitalized for one night where the next morning the doctor discharged me. The doctor said: you can go home, you can exercise again as usual, continue your trip, and so on. …. But I have become a very different person since then.  

I felt  both unable to continue the trip to KL nor to return to Indonesia. I felt very weak physically, very down and a bit confused with my condition. Then I stayed with one  family of Nav Indonesia alumni. My strangest condition at that time was feeling mentally down, experiencing fear and panic easily. At that time my friend was working (at his office), while  I was at home alone… and out of panic, sometimes I called him at the office asking: when are you coming home? I felt that  I couldn’t seem to be left at home alone.

In addition, I also felt physically  very weak. Even going up and down the stairs was difficult/hard.

However,  I realized that I had to go home. At that time I did not tell my wife in Jakarta the details about my condition.

The trip home at that time was the most difficult one among other trips. I felt so weak that I was not able to lift my own  luggage,  so I needed my friend’s help to check in the luggage. At CGK airport in Jakarta, two good friends were ready to welcome me and help me with my luggage (late mas Madyo, and bang Yona). 

In Jakarta, I still often had a similar physical condition where my heart suddenly beat abnormally and rapidly, only to recover a few up to  5 hours later. I marked my calendar when the arrhythmia attacked, and how heavy. After weeks, months, the situation was getting lighter. But in one month, Nov 2007, another serious arrhythmia attacked again and I had to be hospitalized again for one night. But after that, I started to accept my  condition and was ready with the arrhythmia even though it was severe.

Along with that physical condition, it felt heavier that my mental state was very down. Maybe I was not just burnt out… Maybe I was depressed, … but I didn’t consult a professional. There was no such mechanism at that time. 😀 So I  had to face it by myself and felt that I was on my own.  Within six months I was OFF from all ministry activities… It was like entering a period of “eating grass in the field”…

What had been said about me came true at once. I was driven away from people. I ate grass just as cattle do. My body became wet with the dew of heaven. I stayed that way until my hair grew like the feathers of an eagle. My nails became like the claws of a bird.  

Dan 4:33

I used to live on the 2nd floor, but due to my weak physical condition, I moved to the 1st floor. My wife and son (at that time 12years old) were on the 2nd floor. I was mentally very weak. I could often suddenly cry for no reason, loud and prolonged crying… hours. (Now when I think about it, I’m confused about how I could be like that. 😀)

Visits from some friends didn’t seem to have a positive effect at that time. Sometimes I even refused to meet guests or even receive phone calls, because their words often stressed me more.

Those months were the time when I struggled with the difficult situation. Trying to find a comprehensive solution… physically, attitude, emotionally, etc… changing the pattern of life (exercise, food, etc.). Reassess attitudes and outlook on life.