Jean Valjean, saudaraku, jangan pernah engkau lupakan… sekalipun jangan engkau lupa… bahwa engkau berjanji kepadaku pada waktu makan malam kemarin bahwa engkau akan menjadi manusia yang baru.
Kristiawan Candra
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Kor 6:19-20
Jean Valjean, adalah seorang tokoh protagonis dari sebuah Novel Perancis oleh Victor Hugo, berjudul “Les Miserables”. Novel ini juga diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama, dan tokoh Jean Valjean diperankan oleh aktor ternama, Liam Neeson. Salah satu film yang terfavorit bagi saya.
Jean Valjean adalah seorang narapidana, yang baru saja dilepaskan setelah 19 tahun masa hukuman: 5 tahun karena mencuri roti untuk adik perempuannya yang kelaparan, dan 14 tahun karena beberapa kali mencoba melarikan diri. Dia dilepaskan dengan sebuah pasport kuning, sebuah pertanda di masyarakat setempat bahwa ia adalah ex-kriminal yang pernah dipenjara, dan diberi perintah untuk melaporkan diri ke kota Portalier, karena ex-kriminal tidak boleh memilih tempat tinggal secara bebas.
Dalam perjalanannya, ia singgah di kota Dygne. Malang baginya, ia ditolak oleh semua pemilik losmen yang tidak mau menerima ex-kriminal. Seseorang di jalan menyuruhnya untuk pergi ke sebuah gereja, dimana Uskup tua yang baik hati, Myriel, melayani. Uskup Myriel percaya kepada Valjean, mempersilakan ia masuk, memberinya makan malam, dan sebuah kamar tidur untuk ia menginap. Pada waktu malam, Valjean bangun untuk mencuri sendok dan piring perak kepunyaan sang Uskup. Sang Uskup yang terbangun dari tidurnya karena adanya keributan kecil, dipukulnya hingga pingsan. Tak disangka Sang Uskup, Valjean ditangkap keesokan harinya, oleh aparat polisi yang curiga akan gerak geriknya, dan ia pun dibawa lagi ke Sang Uskup.
Akan tetapi betapa terkejutnya si polisi ketika Si Uskup mengatakan bahwa piring-piring dan sendok-sendok perak itu adalah pemberian darinya untuk Valjean. Si Uskup bahkan memberi tambahan candlestick (penyangga lilin) perak miliknya untuk Valjean. Valjean yang bingung bertanya kepada sang Uskup: “mengapa engkau melakukan semua ini kepadaku?”.
Uskup Myriel membuka kerudung Valjean, tangannya mencengkeram erat bahu Valjean dan matanya yang biru bersinar menatap tajam Valjean, sembari berkata: “Jean Valjean, saudaraku, jangan pernah engkau lupakan… sekalipun jangan engkau lupa… bahwa engkau berjanji kepadaku pada waktu makan malam kemarin bahwa engkau akan menjadi manusia yang baru. Engkau bukan lagi milik si jahat (evil), dengan perak-perak ini aku membeli hidupmu. Aku menebusmu dari ketakutan masa lampau (fear), dan dari kebencian (hatred). Sekarang aku kembalikan kamu kepada Tuhan.”
Singkat cerita, film tersebut akhirnya mengisahkan bagaimana Jean Valjean bertobat. Ia membangun hidupnya menjadi pengusaha sukses dan akhirnya menjadi walikota yang dihormati oleh warganya.
Cerita ini menyentuh hati saya secara mendalam. Saya menjadi teringat sebuah ayat firman Tuhan yang menjadi ayat hapalan saya:
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” 1 Petrus 1:18-19.
Dengan kematian Yesus di atas kayu salib, Ia menebus kita dari dosa-dosa, dan dari cara hidup kita yang lama dan sia-sia. Hidup yang sekarang kita jalani ini sebetulnya bukan milik kita lagi, tetapi milik Tuhan yang telah menebus hidup kita. Marilah kita berikan hidup kita untuk membawa kemuliaan bagi Allah, yang telah membeli lunas hidup kita dari hidup yang dikuasai dosa dan dari alam maut.
Sang Pencuri tidak berdaya dan hanya tertunduk lesu sementara vonis hakim dijatuhkan….
Kristiawan Candra
“….Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” Kolose 2:13-14
Adalah seorang pencuri yang tertangkap basah mencuri makanan di sebuah supermarket. Pencuri itu tidak punya pekerjaan setelah beberapa minggu di-PHK dan tidak punya uang untuk membeli makanan bagi kedua putrinya di rumah. Pencuri itu akhirnya dibawa dan dituntut ke pengadilan untuk menjalani proses hukum yang berlaku. Sang Hakim yang memimpin pengadilan ini berbelas kasihan kepada sang Pencuri, tapi Ia juga sadar dan tahu bahwa hukum tetap harus ditegakkan. Sang Pencuri tidak berdaya dan hanya tertunduk lesu sementara vonis hakim dijatuhkan: “denda $300 atau penjara 3 bulan!”. Tiba-tiba, segera setelah vonis dibacakan, Sang Hakim turun dari kursi pengadilannya, mendatangi pencuri tersebut, merogoh dompetnya, dan memberi uang tebusan $300 untuk pencuri tersebut. Oleh karena keadilan (justice), Sang Hakim memvonis hukuman karena pelanggaran sang pencuri. Pelanggaran tetap adalah pelanggaran apapun alasannya. Tetapi oleh karena belas kasihan (compassion), Sang Hakim membayar lunas denda pelanggaran untuk sang pencuri yang tidak berdaya.
Ilustrasi indah di atas menggambarkan hal yang sama yang dikerjakan Allah bagi kita, manusia yang berdosa.
Dalam kitab Roma 3, Rasul Paulus menjelaskan secara gamblang bahwa semua manusia dikuasai oleh dosa, dan tidak bisa tidak untuk berbuat dosa. Dan upah dosa adalah maut dan hukuman kekal. Mengetahui hal ini, Allah yang adalah Allah yang adil, sehingga dosa tetap harus diperhitungkan dan juga diberi penghukuman. Hanya saja hukuman dari dosa ini bukan berupa denda uang atau penjara sekian tahun. Tapi kematian kekal di neraka. Allah juga adalah Allah yang mengasihi kita. Sehingga IA mengutus Firman-Nya, menjelma menjadi manusia. IA turun ke dalam dunia, mendatangi kita, dan (lebih dari hakim tersebut yang “hanya” membuka dompetnya), Ia menyerahkan nyawa-Nya dan membayar lunas segala denda dari dosa-dosa kita.
Tahukah saudara, bahwa dosa seringkali diungkapkan oleh bahasa “hutang” dalam alkitab. Itu sebabnya ketika Petrus, dalam Matius 18, menanyakan kepada Tuhan Yesus berapa kali dalam sehari ia harus mengampuni saudaranya yang berbuat dosa kepadanya, Tuhan Yesus menjawabnya dengan sebuah perumpamaan tentang seorang yang berhutang kepada seorang raja. Kenapa “hutang” dipakai Tuhan Yesus sebagai analogi dosa? Hutang adalah sesuatu yang kurang, yang harus dipenuhi atau dibayar, sebagai bentuk dari kewajiban yang mutlak dari seorang yang berhutang ke sang pemberi pinjaman.
Ketika kita berdosa kepada Allah, kita sebetulnya “berhutang” kepada Allah, ada sesuatu yang secara fundamental kurang dari diri kita sehingga kita gagal memenuhi standard kekudusan Allah. Demikian juga ketika kita berdosa terhadap sesama kita, kita bisa dibilang sebagai orang yang berhutang kepada sesama kita… Ada sesuatu yang kurang dari diri kita, ada sesuatu yang belum kita “bayar” sebagai bentuk kewajiban kita terhadap sesama.
Oleh sebab itu, Yesus Kristus dideskripsikan dengan sangat indah dalam kitab Kolose, sebagai Pribadi Agung yang membayar lunas hutang-hutang dosa kita. DIA memakukan segala surat hutang yang mendakwa dan mengancam kita di pengadilan kekal nanti di atas kayu salib dan membebaskan kita, asal saja kita percaya dan menerima-Nya dalam hati kita. What Amazing Grace! Betapa anugrah Allah yang ajaib dalam Yesus Kristus, Tuhan kita!
TIDAK ADA PROBLEM YANG LEBIH BESAR BAGI SEORANG MANUSIA KETIMBANG DARI PROBLEM DOSA. DAN ALLAH TELAH MENYELESAIKANNYA DI ATAS KAYU SALIB 2000 TAHUN LALU!!! HALLELU-YAH!!!
Kematian Kristus adalah sentral. Sulit digambarkan dengan kata-kata. Sedikit komentar berikut ini memberi warna tersendiri.
Setya
Ayat mana di Alkitab yang sangat berkesan bagi Rekan-rekan jika mengenang tentang kematian Kristus? (bbrp di grup wa Reg1)
Jumat Agung kali ini, beberapa teman menjawab pertanyaan tsb. Berikut ini beberapa dari antaranya:
He gave himself for us, to rescue us from all wickedness and to make us a pure people who belong to him alone and are eager to do good
Titus 2:14 (gnt)
Hidup sejati adalah hidup yang telah ditebus oleh Kristus, ditransformasi oleh kasihNya, dibebaskan dari masa lalu, dimurnikan dalam karakter, dan memiliki identitas serta tujuan hidup yang jelas, serta berdampak bagi orang lain🙏
Have a Blessed Good Friday all🙏⚘️
(Mona)
Ayat tsb termasuk yang sering saya cari/ingat… bagian akhirnya, dalam TB: …yang rajin berbuat baik.
Hari Jumat tsb, kami (anak mantu) memberi bingkisan ke tetangga (kiri dan kanan rumah). Berbuat baik adalah sesuatu yang tentunya senang kita kerjakan.
Tetapi tak disangka, kami dengan cepat menerima perbuatan baik balasan, meski kami tidak mengharapkannya seperti itu. Tetangga kanan rumah memberikan keramahtamahan yang indah. Tetangga kiri rumah sorenya mengirimkan cake Italia yang enak. Kemurahan hati diganjar kemurahan hati.
Ams. 11:17 Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.
dalam case Kristus, … Dia tetap berbuat baik ketika dalam perlakuan yang tidak baik… tetap berbuat baik kepada orang yang berlaku tidak baik pada-Nya
Yes 53:12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.
Buat saya selalu terharu betapa pengorbanan ya di kayu salib.
Rom 5:8 “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Ayat di atas saat ini mengingatkan saya, menerima orang bukan hanya di masa baiknya.
(Ida)
Saya sangat diberkati dari Galatia 2:20. Sejak bisa menghafalnya 45 th yg lalu, ayat itu terus saya ingat dan imani karena saya merasa, sangat bersyukur untuk apa yang Telah Tuhan Yesus lakukan untuk saya. 🙏
namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
(Arum)
Ya, itu ayat yang juga sangat keren… saya pernah baca buku (ketika SMA 😁)… ayat itu yang menggerakkan suatu kebangunan rohani di suatu wilayah/negara… nah, saya lupa detailnya… semoga suatu saat saya ingat… 🙏🏼
Kalau waktu saya di SMA itu, ayat hafalannya dibuat Gal 2:19b-20 (mulai 19b di TB)
Aku telah disalibkan dengan Kristus ; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
sebenarnya di NIV, ayat 20 itu mulai dg I have been crucified with Christ, tetapi terjemahan TB potongan tsb ada di 19b… TMS kita pakai sistem NIV tetapi TMS yang diterjemahkan pakai TB…
Saya coba tanya mbak Gemini: Saya pernah membaca buku, bahwa konsep tsb mendorong kebangunan rohani di suatu negara? Itu sudah lama, mungkin 40 tahun lalu saya membaca buku tsb. Apakah kamu bisa memberikan indikasi itu buku apa dan di negara mana?
Saya menghafalkan 2Kor. 5:17, bahasa Jawa, satu satunya yang sering saya kutip, (jika bersama teman dari Suku Jawa). Kesempatan kemaren mampir di Madiun 2 malam, menikmati hal hal kecil tetapi berarti. Diberkati melihat kesetiaan teman-teman, walaupun para sesepuh sudah tidak ada lagi –sudah dalam kekekalan bersama Kristus.
Awal dari semua kehidupan. Jerry white saat ke Madiun, menghibur klg Maharyudi, … Nano, putra satu satunya, meninggal saat naik motor ke Solo acara (keraton/sekatenan?) seperti yang dialami mereka. Permulaan hidup adalah pada waktu kita mulai mengenal Kristus, dan kehidupan ini tidak diakhiri oleh kematian. Saya juga sangat diberkati.
Lydia
Terima kasih berbagi foto dan kabar dari Madiun, nte Lyd… selalu senang melihat wajah-wajah spt ini, apalagi Madiun… Bgmn pun, Madiun pernah menjadi tempat mengesankan bagi saya, dan bagi cukup banyak teman yang pernah AL di sana… maybe cukup banyak di grup ini adalah alumni AL Madiun… 🙏🏼
2 Kor. 5:17 Dadi sapa kang ana ing Sang Kristus, iku dadi titah anyar: kang lawas wus sirna, lan kang anyar pranyata wus teka.
Adi kalak ersada ras Kristus, ia me tinepa si mbaru, si male enggo lepas janah nehenlah, si mbaru enggo reh.
Asa molo di bagasan Kristus halak, na tinompa na imbaru ma i. Nunga salpu pangalaho na robi, gabe na imbaru.
Ase barang ise ibagas Kristus, na tinompa na baru ma in. Domma salpu sisapari, tonggor ma, domma gabe na baru.
Now we look inside, and what we see is that anyone united with the Messiah gets a fresh start, is created new. The old life is gone; a new life emerges!
Bagi saya sendiri, masa SMA adalah masa yang rada ekstrem. Cukup banyak hal ekstrem saya alami/lakukan, banyak pengertian dasar kerohanian menancap kuat di hati terdalam.
Ada satu ayat dari masa SMA –yang saya hafalkan– yang sangat berkesan dan mungkin salah satu ayat yang -kemudian- paling mudah membuat saya mengambil keputusan besar seperti menjadi staf sepenuh waktu di Navigator (ketika lulus kuliah):
2Kor 5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
Juga:
1Kor 7:23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
Ayat yang sama 2Kor 5:15 juga menjadi salah satu ayat renungan saya hari ini…
Selain ayat teladan Kristus utk merendahkan dan mengosongkan diri utk mengasihi kita…Fil 2:1-11
Selamat menikmati Jumat Agung utk kita semua.
(Okta)
Kerendahan hati kunci kehidupan. Jangan sampai melalui godokan “makan rumput”. (Luhut)
Saat Yesus mati, tabir Bait Allah terbelah dari atas ke bawah — Allah sendiri yang membuka jalan yang dahulu tertutup oleh dosa.
Kini tidak ada lagi jarak yang memisahkan kita dari hadirat-Nya. Datanglah dengan keberanian iman, karena melalui salib, kita diterima sepenuhnya.
Matius 27:50-51 Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah
Selamat Hari Jumat Agung, Kiranya kita semua datang berjumpa Tuhan di hadapan Takhta Kasih Karunia-Nya.
(Ilse)
Ibrani 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Imelda)
Berani mati karena Dia juga mati untukku😇 … berkesan dengan ayat ini sewaktu awal hidup baru.
Filipi 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Ayat pegangan waktu ikut dan lead demo 97-99 😁🤭
Firman yg indah dan powerful ini, Bang. Ayat favoritku juga nih. Dari lead demo –> lead demu 😁 & Depok Raya 🔥 … (Ivan)
Ini ayat-ayat yang berkesan dan manis di hatiku:
1 Yoh. (John) 4
(9) Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. (10) Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
This is how God showed his love for us: God sent his only Son into the world so we might live through him. This is the kind of love we are talking about—not that we once upon a time loved God, but that he loved us and sent his Son as a sacrifice to clear away our sins and the damage they’ve done to our relationship with God. — The Message
Kawan saya, seperti biasa sebagai pengikut Kristus, mencoba proaktif berkenalan dan mengenal tetangganya/wanita tsb lebih baik.
Seorang kawan di Perth (asli Indonesia), tinggal dengan keluarga kecilnya, tinggal di sebuah klaster kecil perumahan. Tetangga depan, seorang lansia wanita hidup sendirian. Dia bule Australia.
Wanita tsb sangat mandiri, tetapi sebenarnya banyak kelemahan.
Kawan saya, seperti biasa sebagai pengikut Kristus, mencoba proaktif berkenalan dan mengenal tetangganya/wanita tsb lebih baik. Apalagi dengan berbagai kelemahannya, kawan kita ini mencoba menawarkan bantuan apa yang bisa.
Akhirnya wanita tsb -pelan-pelan- bisa menerima uluran tangan kawan kita. Dia mulai bisa nebeng belanja di groseri, dll.
Kawan kita bisa membagikan Kristus bukan hanya dengan kehidupan/perbuatan baik tetapi dengan kata-kata. Bagaimana respons di hati terdalam, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas secara relasi, wanita tsb sudah membuka diri.
Suatu saat… saya lupa persisnya siapa yang duluan punya ide ini, wanita tsb ada rencana perjalanan… mengikuti cruise tour (tur dengan kapal pesiar). Kelihatannya tur seperti itu sangat menarik (bagi para senior)… menyusuri pantai selatan dari barat sampai ke timur.
Wanita tsb perlu bantuan dalam banyak hal: urusan tiket, pembayaran online, dll… Kawan kita membantu sepenuhnya semua urusan tsb.
Di tengah-tengah urusan tsb, wanita itu ditemukan meninggal dunia di rumahnya, setelah sekitar sehari semalam tetangga curiga karena tidak ada tanda-tanda kehidupan dari rumah tsb.
Ya, sedih sekali… Syukurlah kawan kita telah berhasil “mengakses” hidup dan hati wanita tsb.
Cerita sampingannya.
Dalam hukum setempat, jika seseorang meninggal dunia tanpa meninggalkan surat wasiat, maka harta kekayaannya menjadi hak negara. Anak dan keluarga manapun tidak berhak atas harta peninggalan tsb. Karena itu ketika kami datang ke sana (beberapa bulan setelah kejadian), rumah tsb masih kosong dan tidak terurus lagi.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan inspirasi buat kita, baik dalam pengelolaan hidup kita, dalam bertetangga/berteman, dll. Tuhan memimpin kehidupan kita. Amin.
Life experiences have taught me a lot. That love contains in it a sacrifice in various degrees. There is no love without sacrifice. God in Jesus Christ has set a real example in unconditional sacrificial love.
written in 2008
I come from a Javanese family, born, and raised until I finished high school in two cities in Central Java. My father is an Army officer from the ’45 class who has been joining in war since his youth. A man who was firm, and stern, simple, with a profound sense of pride. As a Javanese and member of Army, his sense of tolerance can be felt behind his assertiveness. Meanwhile, my mother used to be a teacher who chose not to teach anymore after getting married and giving birth to children. She is a patient person, endures suffering, has a strong will to learn, as well as someone who always takes care of those around her who are in conflict (as a counterweight).
I was born as the fourth of five children. Even though we are a non-Christian family, 4 children including myself from 5 of us are enrolled in a private Christian elementary school. My parents’ reason at that time was to look for a school with good quality education, and it was found in that school. Of course at that school we received Christian religious lessons and sometimes attended Sunday school and several celebrations to commemorate major holidays in Christianity. My elementary school years went well and I enjoyed it. My academic and non-academic achievements were also quite good during elementary school, although my parents, especially my mother, almost never forced us to study at home.
An Unfair World
One of my worries when I was in elementary school was finding out that the world is very unfair, very unpeaceful. Often I secretly observe everything around me, both inside and outside the family, even within myself. A lot of things that are not true, which is not good I found there. It became a search for answers for me personally.
After elementary school, usually my brothers and sisters began to learn to pray and learn to read our religious/M books. This is because they or we will continue to a state junior high school which will automatically receive our religious lessons. To me it’s a ‘troublesome’ thing, impractical, and the like. Therefore, after graduating from elementary school, I ventured to convey to my father that I wanted to continue/follow Christianity only. So I asked him to fill in the student data in the religion column filled with “Christian”. My parents didn’t refuse, agreeing on one condition that if I really wanted to convert to Christianity, I had to go to one of the churches and obey the teachings of Christianity. I have to be responsible with my choices.
Soon I joined a church not too far from my house. I regularly attend services for children my age every week, sometimes taking part in other activities such as vocal groups, and the like. My parents were quite supportive, they bought me a Bible and some of my needs related to Christianity were fulfilled. They also freed me to participate in activities around the church.
Feeling Enough and Satisfied
Almost the same as in elementary school, I also went through junior high school quite smoothly and successfully. I really enjoyed this junior high school with many positive associations and activities in various fields. It feels like what I want with a little hard work can be achieved. But in all of that I realized I was growing into a fairly independent and self-satisfied person. Behind my good and polite demeanor is a very individualistic person. I still like to observe everything around me but my heart is hard to be moved/merciful by what I observe. My thought at that time was “we take care of our own business, don’t get too involved in other people’s lives, even if interacting is limited to politeness, living as a social creature”. The thing that sometimes frustrated me at that time was the thought of the fact that no matter how great a human achievement is, he/she will still end up in death. Then what is all this toil and success for, what is this life for? Satisfaction, self-respect, acceptance? It feels too trivial/low if life is just for that.
In the middle of 3rd grade of junior high school, a very significant event occurred in my life. At that time, after going through meditations on personal life and God’s word for several months, a challenge/question from a counselor in the church led me to repent and accept Jesus Christ personally. Being Christian is no longer just a formality in a good life but making Him my personal Savior and Lord of my life. I am really grateful for this experience. Since then I have felt God helping me to see myself and the world in a new light. That God really loves me, that I am truly precious in His sight, there is nothing “accidental” in my life in Him. This kind of understanding and belief has slowly influenced the way I view the people around me and all the events in my life. I also realized my sense of individuality as a more “polite” form of selfishness, which I had to ask forgiveness for and learn to change from time to time. I began to learn to genuinely care for others.
Supportive Parents
A few months after converting, before ending junior high school, I made the decision to be baptized in that church. My parents were still supportive and even attended my baptism. I am really grateful for my parents. The brothers at home also seemed less troubled by my decision. It seems that in my family as long as everything is under control and fine whatever steps the children take, there is rarely opposition. Father once said to us children, “If you make a decision in this life, you will be the one to live it and bear the consequences/risks. If it is good and noble, you will also be happy. But if it is not good and heavy, you yourself will also be ashamed and suffer. We parents can’t do much/meddle in all that.” His words are truly proven in almost every critical period of us children in making important decisions such as continuing further studies after high school, working, dating/marriage, and so on. For me these words mean I have to grow to be a person who is responsible and has integrity.
After graduating from junior high school, I entered a public high school. At this high school, I was invited to join a student ministry in which there was a kind of Bible study group or small group/discipleship. Once again I am grateful that it was through this small group that my basic life was built. I learned to build a personal relationship with God, learned to study the Bible and apply it in my daily life, and so on. Through all that process I learned to understand God’s purpose and plan specifically in my life and how God wants to express it. I learned a lot to apply the truth of God’s word in the context of my non-Christian family. Loving them in very simple and real forms of action without the polish of Christian culture/tradition. It was during these times that I was increasingly exposed to the reality of life, namely that in the ‘calm’ of my family life, there were actually many very complex problems. Likewise, when I learn to have friends, I also see that reality in their families.
The Open Way
My high school years went smoothly and well. It was a beautiful time for me because in it I was built a lot in the word of God. During that time, I also learned to help some of my juniors in a small group Bible study. After graduating from high school, I was accepted at one of the best institute/school of technology/engineering in the country without a test. At that time I did choose a certain field in the institute with a belief in God’s plan for my future. Really grateful that God opened the way to that place for me to continue my study.
It turned out that it was not only the opportunity to gain the knowledge that I wanted that I got at the institute. I also got a lot of mental and spiritual lessons and exercises in that place. In addition to studying and participating in activities on campus, I also joined a Christian ministry on campus and were helped a lot through it. Through all that process I increasingly saw a common thread in my life about God’s plan for me. It was as if I saw from the start how God used my non-Christian parents/family to get acquainted with Christianity through elementary school. Then in middle school, he helped me to get to know Christ more personally and repent. Not only that, after all that, I felt like I was provided with a community to grow through studying God’s word and practice/life experiences from high school until I went to college. It was very special for me who is from non-Christian background.
Until one day in college I made the decision to continue serving God even though I didn’t know what form it would take. Of course, the main ministry that I believe in is within my own family, especially caring for and building a deeper relationship with my parent. Be available to parent to listen and accompany them in their old age. Testify through my real life everyday.
A Male since High School
I graduated from college and be a teacher. Not long ago I married a man I’d known since high school, but we only had a special relationship about a year before I graduated. He’s a senior in college. In our campus ministry, we interact a lot in the context of general socialization. We agreed and decided to get married after going through a long journey of knowing each other and seeing God’s plan in it. We believe that God has a special plan for the family we are going to build. A vision and purpose at the beginning of the marriage that helped us in living a dynamic married/family life.
A few months after we got married we made an important decision in our lives, namely serving God full time by becoming a worker/staff in the ministry organisation, resigning from our job as a teacher (husband was also a teacher at the time). We serve fellow students at our alma mater campus. About 1.5 years after marriage I gave birth to a son, … the only child then.
After getting married, I/we felt that God was increasingly revealing things that we had not seen or felt as a single about the dynamics and problems that exist in a family. With myself being a spouse/wife and parent/mother of a child, it really helps me to empathize with the situation and condition of my extended family. My relationship with my parent, especially my mother, is getting deeper and meaningful, maybe because she sees that now I am also a wife and mother. We often confide in each other about various things from complicated family problems to trivial things like recipes or kitchen ingredients. Mother was so close with and trusted me that many of her and her family’s secrets were revealed to me seeking input and support. Differences in beliefs did not make her keep distance from me. I also learned to sincerely love her without any hidden ‘agenda’ for evangelization and such. I am of the view that if I learn to live righteously according to the Bible, my life will automatically become a gospel for others, a book that is open to everyone I interact with. The rest that has the power to influence/change people’s hearts is the work of God through the Holy Spirit in people. I really enjoy God’s grace in my relationship with my mother.
Starting Something New
The relationship also opened up a lot for me about the things/lessons that were right and good or not true that I received while I was at home, which could have influenced my pattern of having a family, my relationship with my husband and raising children. I (of course with my husband) learned to build and start something new based on an understanding of God’s word and experiences/lessons learned from our respective families. I realized that there were shortcomings and mistakes that my parent had made while raising us including myself, not on purpose but mostly because they didn’t know and didn’t realize it. They only became parent once and at that time information and people who could help were very limited. They themselves may be the result of upbringing and education that were not entirely correct and good/right in the past. My part in this is to accept them as they are and forgive sincerely. Viewed everything that happened in my past in the family in the understanding and authority of God, and that He has the power to change and restore.
My belief is getting stronger that one of God’s purposes and plans for calling me from a non-Christian family background is to serve my family, especially my parent. This belief really helped me to pursue peace/reconciliation or take the initiative to apologize first when misunderstandings and pressures arise in my relationship with my parents due to several reasons. Not letting the devil with his tricks destroy our relationship.
Not only that, this belief also really strengthened me when I had to accompany my mother in the moments before she died. Between the grief and sadness at the loss of my mother, I felt a rush of relief at having done my part as a child who loved her until the end of her life, relief from a deep understanding that she had made the right decision towards the end of her life. That is a very personal experience between mother and Christ that no one knows including myself, all because of the work of the Holy Spirit.
This belief also strengthened me/us while taking care of our father. After our mother died, our father immediately lost his zest for life, something that further weakened his physical condition. Diabetes, which he had suffered for a dozen years while still being able to live a normal life, became a problem. Previously, in the care of my mother, my father had suffered from diabetes for a dozen years and had never been hospitalized. But as soon as my mother died, my father had to be hospitalized, twice. About 6 months after my mother died, my father also died. Again I grieved.
Sacrificial Love
The life experiences above have taught me a lot. That love contains in it a sacrifice in various degrees. There is no love without sacrifice. God in Jesus Christ has set a real example in unconditional sacrificial love.