Bayangan dan Hakikat

diambil dari DAILY BIBLE VERSES 

Aturan-aturan yang tampak seperti kekudusan dapat secara diam-diam memisahkan Anda dari satu-satunya Kepala yang memberi kehidupan.

Today’s Verse

These are a shadow of the things to come, but the substance belongs to Christ. Colossians 2:17

Historical Context

Paulus menulis kepada jemaat di Kolose sekitar tahun 60-62 M dari penjara, kemungkinan di Roma. Ia sendiri tidak mendirikan jemaat ini. Epafras, seorang mualaf dari Kolose, telah membawa Injil ke rumahnya dan kemudian pergi kepada Paulus dengan kabar yang mengkhawatirkan. Sebuah ajaran menyebar di antara jemaat yang menambahkan persyaratan tambahan di atas Kristus: aturan makanan, perayaan hari raya Yahudi dan bulan baru serta hari Sabat, perlakuan keras terhadap tubuh, pengalaman visioner, dan semacam penghormatan terhadap malaikat sebagai perantara antara Allah dan manusia.

Kolose terletak di Lembah Lycus di wilayah yang sekarang merupakan Turki barat, sebuah kota persimpangan tempat praktik sinagoge Yahudi, asketisme filosofis Yunani, dan agama-agama misteri lokal berbaur. Para pengajar yang mengganggu gereja tampaknya telah memadukan unsur-unsur dari masing-masing aliran tersebut, menjanjikan spiritualitas yang lebih dalam kepada siapa pun yang bersedia menaiki tangga aturan, puasa, dan pengetahuan rahasia. Bagi orang luar, hal itu tampak mengesankan. Seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat 23, hal itu memiliki penampilan kebijaksanaan.

Seluruh surat Paulus menjawab hal ini dengan meninggikan Kristus. Dalam pasal 1, Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, Pribadi yang di dalam-Nya segala sesuatu tetap ada, serta Kepala dari tubuh, yaitu jemaat. Dalam pasal 2 ayat 9, seluruh kepenuhan keallahan berdiam secara jasmaniah di dalam Dia. Jadi, saat Paulus sampai pada bagian yang sedang kita bahas ini, argumennya sudah tersampaikan dengan jelas. Jika Kristus adalah segalanya, maka menambahkan sesuatu pada Kristus justru berarti menguranginya. Aturan makanan dan perayaan-perayaan itu memang bayang-bayang nyata yang dihasilkan oleh matahari yang sesungguhnya; namun, begitu matahari telah terbit, Anda tidak lagi mengejar bayang-bayang. Anda berjalan di dalam terang.

Reflection

Ada sejenis keagamaan yang terasa serius karena sifatnya yang keras. Keagamaan ini menghitung, melarang, dan mengukur berbagai hal. Keagamaan ini dapat memberi tahu Anda secara tepat apa yang Anda makan, apa yang Anda kenakan, dan apa yang Anda tonton. Dan Paulus mengatakannya dengan jelas: itu tidak sama dengan kekudusan. Hal itu bahkan bisa menjadi kebalikannya.

Perhatikan apa yang ia katakan tentang hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh aturan-aturan ini. Aturan-aturan tersebut tidak memiliki nilai untuk menghentikan pemuasan hawa nafsu kedagingan. Sama sekali tidak ada. Seseorang dapat menaati setiap aturan dalam daftar tersebut namun tetap sombong, tetap pahit hati, dan tetap diperbudak oleh dosa-dosa yang hidup di bawah permukaan yang tidak dapat dijangkau oleh aturan-aturan itu. Kedagingan hanya menertawakan pantangan/diet. Apa yang mematikan kedagingan adalah mati bersama Kristus.

Bahaya bagi kita sangatlah samar, karena kita biasanya tidak tergiur untuk menyembah malaikat atau merayakan bulan baru. Kita tergoda untuk membangun sangkar-sangkar yang lebih tenang: seorang Kristen yang mengukur kesetiaannya berdasarkan rencana pembacaan yang terselesaikan, antrean siniar (podcast) yang telah selesai didengarkan, afiliasi kelompok politik yang dipertahankan, serta pilihan hiburan yang dikurasi secara hati-hati. Tidak ada satu pun dari hal-hal ini yang salah. Namun, semuanya dapat menjadi hal yang Anda pegang teguh alih-alih memegang Sang Kepala.

Ujian dari Paulus sangatlah tajam. Apakah Anda memegang teguh Kristus? Bukan pada kebiasaan-kebiasaan Kristen, bukan pada budaya Kristen, bukan pada rasa hormat dari orang Kristen lainnya, melainkan pada Tuhan yang telah bangkit itu sendiri. Tubuh itu tumbuh, katanya, dari Sang Kepala. Jika terputus dari-Nya, Anda bisa saja sibuk dengan hal-hal yang terlihat kudus tetapi sebenarnya sedang layu.

Injil bukanlah daftar aturan yang lebih singkat. Injil adalah Pribadi yang telah mati untuk Anda, bangkit untuk Anda, dan kini dipersatukan dengan Anda oleh Roh. Hal-hal lainnya hanyalah bayangan. Dialah wujud yang sejati.

For Reflection

Di bagian mana dalam hidup Anda, Anda diam-diam telah mengganti ketaatan kepada Kristus dengan ketaatan pada suatu aturan, rutinitas, atau reputasi yang hanya menyerupai Dia?

Prayer

Tuhan Yesus, Engkau adalah hakikat dan aku terlalu sering mengejar bayangan. Ampuni aku atas agama yang telah kubangun untuk membuat diriku merasa aman, dan atas kesombongan yang kusalahartikan sebagai pengabdian. Ajari aku untuk berpegang teguh pada-Mu, Kepala yang hidup, dan membiarkan Roh-Mu melakukan pekerjaan mendalam yang tak dapat dilakukan oleh aturanku sendiri. Matikan apa yang masih bersifat kedagingan dalam diriku, dan tumbuhkan aku di dalam Engkau. Dalam nama-Mu, Amin.

Sumber asli

https://open.substack.com/pub/dailybibletruth/p/the-shadow-and-the-substance?utm_source=share&utm_medium=android&r=93na9p.

KRISTUS MEMBELI HIDUP KITA

Jean Valjean, saudaraku, jangan pernah engkau lupakan… sekalipun jangan engkau lupa… bahwa engkau berjanji kepadaku pada waktu makan malam kemarin bahwa engkau akan menjadi manusia yang baru.

Kristiawan Candra

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Kor 6:19-20

Jean Valjean, adalah seorang tokoh protagonis dari sebuah Novel Perancis oleh Victor Hugo, berjudul “Les Miserables”. Novel ini juga diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama, dan tokoh Jean Valjean diperankan oleh aktor ternama, Liam Neeson. Salah satu film yang terfavorit bagi saya.

Jean Valjean adalah seorang narapidana, yang baru saja dilepaskan setelah 19 tahun masa hukuman: 5 tahun karena mencuri roti untuk adik perempuannya yang kelaparan, dan 14 tahun karena beberapa kali mencoba melarikan diri. Dia dilepaskan dengan sebuah pasport kuning, sebuah pertanda di masyarakat setempat bahwa ia adalah ex-kriminal yang pernah dipenjara, dan diberi perintah untuk melaporkan diri ke kota Portalier, karena ex-kriminal tidak boleh memilih tempat tinggal secara bebas.

Dalam perjalanannya, ia singgah di kota Dygne. Malang baginya, ia ditolak oleh semua pemilik losmen yang tidak mau menerima ex-kriminal. Seseorang di jalan menyuruhnya untuk pergi ke sebuah gereja, dimana Uskup tua yang baik hati, Myriel, melayani. Uskup Myriel percaya kepada Valjean, mempersilakan ia masuk, memberinya makan malam, dan sebuah kamar tidur untuk ia menginap. Pada waktu malam, Valjean bangun untuk mencuri sendok dan piring perak kepunyaan sang Uskup. Sang Uskup yang terbangun dari tidurnya karena adanya keributan kecil, dipukulnya hingga pingsan. Tak disangka Sang Uskup, Valjean ditangkap keesokan harinya, oleh aparat polisi yang curiga akan gerak geriknya, dan ia pun dibawa lagi ke Sang Uskup.

Akan tetapi betapa terkejutnya si polisi ketika Si Uskup mengatakan bahwa piring-piring dan sendok-sendok perak itu adalah pemberian darinya untuk Valjean. Si Uskup bahkan memberi tambahan candlestick (penyangga lilin) perak miliknya untuk Valjean. Valjean yang bingung bertanya kepada sang Uskup: “mengapa engkau melakukan semua ini kepadaku?”.

Uskup Myriel membuka kerudung Valjean, tangannya mencengkeram erat bahu Valjean dan matanya yang biru bersinar menatap tajam Valjean, sembari berkata: “Jean Valjean, saudaraku, jangan pernah engkau lupakan… sekalipun jangan engkau lupa… bahwa engkau berjanji kepadaku pada waktu makan malam kemarin bahwa engkau akan menjadi manusia yang baru. Engkau bukan lagi milik si jahat (evil), dengan perak-perak ini aku membeli hidupmu. Aku menebusmu dari ketakutan masa lampau (fear), dan dari kebencian (hatred). Sekarang aku kembalikan kamu kepada Tuhan.”

Singkat cerita, film tersebut akhirnya mengisahkan bagaimana Jean Valjean bertobat. Ia membangun hidupnya menjadi pengusaha sukses dan akhirnya menjadi walikota yang dihormati oleh warganya.

Cerita ini menyentuh hati saya secara mendalam. Saya menjadi teringat sebuah ayat firman Tuhan yang menjadi ayat hapalan saya:

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” 1 Petrus 1:18-19.

Dengan kematian Yesus di atas kayu salib, Ia menebus kita dari dosa-dosa, dan dari cara hidup kita yang lama dan sia-sia. Hidup yang sekarang kita jalani ini sebetulnya bukan milik kita lagi, tetapi milik Tuhan yang telah menebus hidup kita. Marilah kita berikan hidup kita untuk membawa kemuliaan bagi Allah, yang telah membeli lunas hidup kita dari hidup yang dikuasai dosa dan dari alam maut.

Kristiawan Candra, UI MIPA 2000
(Renungan Paskah 2009 #2)

KRISTUS MELUNASI HUTANG-HUTANG KITA

Sang Pencuri tidak berdaya dan hanya tertunduk lesu sementara vonis hakim dijatuhkan….

Kristiawan Candra

“….Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” Kolose 2:13-14

Adalah seorang pencuri yang tertangkap basah mencuri makanan di sebuah supermarket. Pencuri itu tidak punya pekerjaan setelah beberapa minggu di-PHK dan tidak punya uang untuk membeli makanan bagi kedua putrinya di rumah. Pencuri itu akhirnya dibawa dan dituntut ke pengadilan untuk menjalani proses hukum yang berlaku. Sang Hakim yang memimpin pengadilan ini berbelas kasihan kepada sang Pencuri, tapi Ia juga sadar dan tahu bahwa hukum tetap harus ditegakkan. Sang Pencuri tidak berdaya dan hanya tertunduk lesu sementara vonis hakim dijatuhkan: “denda $300 atau penjara 3 bulan!”. Tiba-tiba, segera setelah vonis dibacakan, Sang Hakim turun dari kursi pengadilannya, mendatangi pencuri tersebut, merogoh dompetnya, dan memberi uang tebusan $300 untuk pencuri tersebut. Oleh karena keadilan (justice), Sang Hakim memvonis hukuman karena pelanggaran sang pencuri. Pelanggaran tetap adalah pelanggaran apapun alasannya. Tetapi oleh karena belas kasihan (compassion), Sang Hakim membayar lunas denda pelanggaran untuk sang pencuri yang tidak berdaya.

Ilustrasi indah di atas menggambarkan hal yang sama yang dikerjakan Allah bagi kita, manusia yang berdosa.

Dalam kitab Roma 3, Rasul Paulus menjelaskan secara gamblang bahwa semua manusia dikuasai oleh dosa, dan tidak bisa tidak untuk berbuat dosa. Dan upah dosa adalah maut dan hukuman kekal. Mengetahui hal ini, Allah yang adalah Allah yang adil, sehingga dosa tetap harus diperhitungkan dan juga diberi penghukuman. Hanya saja hukuman dari dosa ini bukan berupa denda uang atau penjara sekian tahun. Tapi kematian kekal di neraka. Allah juga adalah Allah yang mengasihi kita. Sehingga IA mengutus Firman-Nya, menjelma menjadi manusia. IA turun ke dalam dunia, mendatangi kita, dan (lebih dari hakim tersebut yang “hanya” membuka dompetnya), Ia menyerahkan nyawa-Nya dan membayar lunas segala denda dari dosa-dosa kita.

Tahukah saudara, bahwa dosa seringkali diungkapkan oleh bahasa “hutang” dalam alkitab. Itu sebabnya ketika Petrus, dalam Matius 18, menanyakan kepada Tuhan Yesus berapa kali dalam sehari ia harus mengampuni saudaranya yang berbuat dosa kepadanya, Tuhan Yesus menjawabnya dengan sebuah perumpamaan tentang seorang yang berhutang kepada seorang raja. Kenapa “hutang” dipakai Tuhan Yesus sebagai analogi dosa? Hutang adalah sesuatu yang kurang, yang harus dipenuhi atau dibayar, sebagai bentuk dari kewajiban yang mutlak dari seorang yang berhutang ke sang pemberi pinjaman.

Ketika kita berdosa kepada Allah, kita sebetulnya “berhutang” kepada Allah, ada sesuatu yang secara fundamental kurang dari diri kita sehingga kita gagal memenuhi standard kekudusan Allah. Demikian juga ketika kita berdosa terhadap sesama kita, kita bisa dibilang sebagai orang yang berhutang kepada sesama kita… Ada sesuatu yang kurang dari diri kita, ada sesuatu yang belum kita “bayar” sebagai bentuk kewajiban kita terhadap sesama.

Oleh sebab itu, Yesus Kristus dideskripsikan dengan sangat indah dalam kitab Kolose, sebagai Pribadi Agung yang membayar lunas hutang-hutang dosa kita. DIA memakukan segala surat hutang yang mendakwa dan mengancam kita di pengadilan kekal nanti di atas kayu salib dan membebaskan kita, asal saja kita percaya dan menerima-Nya dalam hati kita. What Amazing Grace! Betapa anugrah Allah yang ajaib dalam Yesus Kristus, Tuhan kita!

TIDAK ADA PROBLEM YANG LEBIH BESAR BAGI SEORANG MANUSIA KETIMBANG DARI PROBLEM DOSA. DAN ALLAH TELAH MENYELESAIKANNYA DI ATAS KAYU SALIB 2000 TAHUN LALU!!! HALLELU-YAH!!!

Kristiawan Candra, UI MIPA 2000
(Renungan Paskah 2009 #1)