Perjodohan-perjodohan Yang Tidak Mainstream

Kisah-kisah yang sering saya dengar adalah: pacaran waktu kuliah, hubungan terus berlanjut, … setelah bekerja beberapa tahun, lalu menikah.

Atau, kuliah, lalu bekerja beberapa tahun dan mencari pacar/mendapat jodoh, setelah beberapa tahun, menikah…

Demikianlah kisah-kisah yang sering saya dengar.

Tetapi, saya tertarik dengan kisah-kisah yang tidak mainstream, yang tidak biasa. Karena dalam Tuhan, segala hal baik bisa terjadi, dengan cara yang berbeda-beda, dan masing-masing ada keindahan yang Dia nyatakan.

  • Seorang teman, mendapat jodohnya setelah umur sekitar 50 tahun. Dan rupanya jodohnya itu teman lama dari masa muda ketika umur masih mid atau late 30an. Mengapa tidak dari dulu? … namanya juga tidak mainstream. Ada keindahannya, … banyak keindahan, dengan pengalaman ini.
  • Banyak wanita berharap mendapat pria yang lebih tua. Tetapi ada (cukup banyak) yang bersyukur mendapat pria yang lebih muda. Hubungan adalah unik, … kadang bukan masalah umur, tetapi “klik” di antara keduanya. Tentu ada dinamika tergantung berapa banyak jarak umurnya, tetapi selalu ada keindahannya tersendiri.
  • Kebanyakan orang akan mendapat jodoh, atau berjodoh, dengan kawan sepantaran dalam hal studi. Tetapi ada cukup banyak juga, yang kawan D3 dapat jodoh kawan S3/PhD. Saya sedang menunggu ada gak kawan yang tidak kuliah berjodoh dengan yang sekolah tinggi (S1 atau malah s/d S3). Saya dengar kemarin di Newcastle NSW, kebanyakan teman Indo yang kuliah S3 di sana adalah wanita, dan suaminya ikutan ke sana, kerja apa saja (biasanya kurir makanan). Selalu ada dinamikanya. Cinta menyatukan. Selamat menikmati hubungan cinta.
  • Ada yang dapat jodoh yang dikenal di masa SMA atau kebanyakan di masa kuliah, tetapi ada yang mendapat jodoh teman SD, alias teman sekampung, yang mungkin waktu itu teman bertengkar. 😁

Ini ada satu kisah nyata, kisah lama, tahun 2014, yang bisa menjadi pelajaran/inspirasi. Membaca detail pergulatan pemikiran si wanita, apa yang kalian pelajari? Baca di: https://lifejour.wordpress.com/2014/09/13/cinta-mengatasi-perbedaan-pendidikan-dan-pekerjaan/.

Update. Tambahan satu kisah unik lagi: https://navina.id/2019/08/29/pacarku-teman-sdku/.

Jangan enggan jika mendapat suatu pintu kesempatan yang tidak mainstream. Terimalah. Manfaatkanlah. Siapa tahu itu jalan dari Tuhan.

Kisah cara Abigail di Alkitab mendapatkan Daud adalah kisah yang tidak mainstream. Abigail adalah contoh yang bagus menurut saya bagaimana meniti perjalanan, dan mendapat jodoh. Ada banyak contoh lain di Alkitab.

Apa komentar kalian membaca tulisan ini? Ada gak contoh-contoh tidak mainstream yang lain? Silakan tuliskan di komentar. Sukses selalu!!

Memberkati Orang Yang Mengikuti

Bil 10:32Ā  Jika engkau ikut bersama-sama dengan kami, maka kebaikan yang akan dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu.

Hobab, ipar Musa, selama ini mengikuti Musa dan rombongan, keluar dari Mesir. Dan saat ini, rombongan menuju ke tanah yang dijanjikan. Hobab minta izin untuk pulang ke negerinya dan ke sanak saudaranya. Tetapi Musa minta dengan sangat supaya Hobab tetap bersama mereka, membantu mereka dengan keahliannya berkemah di padang gurun (mungkin juga semacam navigasi di padang gurun).

Dan Musa berkata/berjanji, bahwa kebaikan yang Tuhan Tuhan akan lakukan kepada bangsa Israel, akan dilakukan Musa juga kepada Hobab.

Demikianlah kita, dalam perjalanan kita di dunia ini, akan ada orang-orang yang mengikuti kita, apakah itu anak kita, anggota keluarga besar, teman-teman yang ngenger di rumah kita, atau siapa saja di sekitar kita.

Berkat yang Tuhan berikan kepada kita, hendaklah kita teruskan kepada mereka. Begitulah Tuhan terus menerus memberkati semua orang generasi demi generasi, dari satu orang kepada banyak orang.

Biarkan Saya Bersedih Ulang

Kenangan yang tak kan terlupakan. Karena bukan sekedar kata-kata, tetapi kehidupan yang ditanamkan.

Kenangan yang tak kan terlupakan. Karena bukan sekedar kata-kata, tetapi kehidupan yang ditanamkan.

Satu dua minggu ini saya terkenang terus akan bang Ocan (Haposan Panjaitan), pembimbing saya di Nav yang nomor satu, yang meninggal dunia 29 Maret yang lalu. Ya, saya membiarkan diri bersedih ulang, karena bang Ocan adalah orang Nav paling dekat, secara emosi… bersaing lah dengan bang Alamta (dua beliau tsb, tandem lah mengasihi saya)…. Typical lah pengalaman kita dengan pembimbing Nav, sangat dekat secara emosi, dan itu efeknya jangka panjang, kadang bisa lebih dari saudara.

Dia membimbing saya sambil mengerjakan TA (tugas akhir kuliah). Tapi itu tidak menghalanginya untuk memberikan hidup kepada saya. Kalau mau diceritakan detail, akan perlu ribuan lembar halaman, dan mungkin tidak akan cukup ribuan.

Ketika lulus, barang-barangnya pun dilungsurkan ke saya (mungkin itu lah mengapa saya sekarang juga suka melungsurkan barang… hehe #alasan): motor (sebelum terjual), jaket, rak buku, dst.

Ketika saya mau pindah ke Jakarta (dari Bandung), dia pun menyambut saya kalau saya pas kunjungan ke Jakarta (sekitar tahun 1997). Naik mobilnya yang bagus banget waktu itu dari Gambir ke 705… terasa mewah.

Too many memories… Love you full…

Komitmen dan Keindahan

Anak-anak muda sekarang bertanya: mengapa saya harus menikah jika tidak ada keindahan dalam pernikahan? Tapi apakah keindahan itu otomatis ada dalam pernikahan?

Anak-anak muda sekarang bertanya: mengapa saya harus menikah jika tidak ada keindahan dalam pernikahan? Tapi apakah keindahan itu otomatis ada dalam pernikahan? Keindahan sudah didesain, tapi perlu diupayakan. Dan perlu komitmen untuk keindahan itu berkembang.

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. (Kej 2:18,22-25)

Pernikahan (dan secara umum: hubungan antar manusia) adalah desain dasar Tuhan. Dia merencanakan/menciptakan/merindukan suatu hubungan kasat mata di bumi ini yang menyatakan keindahan hubungan di antara “KITA” (Kej 1:26). Segala yang diciptakan-Nya adalah: sungguh amat baik. (1:31)

Komitmen kita adalah komitmen kepada Firman Tuhan/Kristus sendiri, dan komitmen pada pasangan sesuai yang dinyatakan Kristus. Tanpa suatu patokan dasar bagi hidup kita, kita tidak akan jelas kemana arah hidup kita. Inilah patokan itu: sekali ditetapkan dan diyakini (this is flesh of my flesh, bone of my bone), sudah titik.. itulah yang terbaik.

Keindahan adalah subjektif dan perseptif. Dengan kasih, kita akan melihat keindahan orang lain/pasangan kita apapun keadaannya. Latihlah otak/pikiran untuk bisa melihat dan menikmati keindahan itu.

Note: Ini diskusi pranikah dengan satu pasang kawan, 21 April 2019. Obrolannya lebih dari 2 jam, banyak sekali pernak-pernik detailnya, rupanya sulit menuliskannya. šŸ™‚

Ketabahan Ibu

Now faith, hope, and love remain—these three things—and the greatest of these is love.

Mestinya judulnya ketabahan orang tua. Tapi mengamati banyak praktek, akhirnya judul Ketabahan Ibu ini lebih cocok lah. Ayah dan ibu, keduanya punya ketabahannya sendiri, tapi kali ini, yang saya lihat dan akan ceritakan adalah ketabahan ibu.

Saya melihat seorang ibu, yang pernah berkarir, lalu keluar dari kantornya untuk anak-anaknya yang baru lahir/masih kecil. Lalu ibu ini ngantor lagi, tapi tak setahun keluar lagi, sambil menantikan anak ke-3 lahir.

Melihat seorang ibu hari demi harinya, jam demi jamnya, saat demi saatnya menemani dan menyertai anak-anak kecilnya… adalah sesuatu yang menakjubkan. Ibu punya ketabahan yang luar biasa.

Saya bermain hanya/ndak sampai sejam… bermain lego dengan anak ini. Bayangkan, ini hanya sejam… lah seorang ibu yang di rumah? Dengan 2 anak? Luar biasa tabahnya.

Sangat bersyukur, ada keindahan-keindahan di dalam hati yang Tuhan berikan yang membuat semua itu terjadi.

Istri saya pernah mengalaminya… dan aneh rasanya, itu semua rupanya telah dilalui. Seperti tak terasa waktu berlalu….

Now faith, hope, and love remain—these three things—and the greatest of these is love. (1 Corinthians 13:13 CEB)

Tambahan ilustrasi: 😁