Kenangan yang tak kan terlupakan. Karena bukan sekedar kata-kata, tetapi kehidupan yang ditanamkan.
Kenangan yang tak kan terlupakan. Karena bukan sekedar kata-kata, tetapi kehidupan yang ditanamkan.
Satu dua minggu ini saya terkenang terus akan bang Ocan (Haposan Panjaitan), pembimbing saya di Nav yang nomor satu, yang meninggal dunia 29 Maret yang lalu. Ya, saya membiarkan diri bersedih ulang, karena bang Ocan adalah orang Nav paling dekat, secara emosi… bersaing lah dengan bang Alamta (dua beliau tsb, tandem lah mengasihi saya)…. Typical lah pengalaman kita dengan pembimbing Nav, sangat dekat secara emosi, dan itu efeknya jangka panjang, kadang bisa lebih dari saudara.
Dia membimbing saya sambil mengerjakan TA (tugas akhir kuliah). Tapi itu tidak menghalanginya untuk memberikan hidup kepada saya. Kalau mau diceritakan detail, akan perlu ribuan lembar halaman, dan mungkin tidak akan cukup ribuan.
Ketika lulus, barang-barangnya pun dilungsurkan ke saya (mungkin itu lah mengapa saya sekarang juga suka melungsurkan barang… hehe #alasan): motor (sebelum terjual), jaket, rak buku, dst.
Ketika saya mau pindah ke Jakarta (dari Bandung), dia pun menyambut saya kalau saya pas kunjungan ke Jakarta (sekitar tahun 1997). Naik mobilnya yang bagus banget waktu itu dari Gambir ke 705… terasa mewah.
Apapun yang menjadi masalahmu, kuat atau enggak kuat, kamu harus kuat; tetapi misalnya kamu benar-benar enggak kuat lagi, ya tetap harus kuat.
Hari ini gak tahu kenapa, saya cukup bersedih, kelihatannya karena kematian Didi Kempot tadi pagi. Maybe beberapa kawan di Dewa, khususnya mas Guntara, yang juga bisa turut merasakan kesedihan ini. Kami kalau karaokean Dewa biasanya ada lagu campur sari beliau (dan biasanya mas Gun atau pakdhe Maryanto yang memilih lagu tsb).
Beliau bernama asli Dionisius Prasetyo, kelahiran 31 Des 1966. Mulai berkarir sebagai pengamen di Solo tahun 1984-1986, lalu tahun 1987 mulai mengadu nasib, mengamen di Jakarta. Kempot artinya Kelompok Pengamen Trotoar.
Duka cita saya kepada segenap keluarga almarhum dan seluruh sobat ambyar di mana pun berada. (Presiden Jokowi)
Terakhir pak Presiden memang punya kebahagian melihat alm menggalang dana covid dengan konser amal dari rumah yang menghasilkan 7,6 Milyar rupiah.
Beliau telah menggubah sekitar 800 lagu (tadi kami lihat di tv, ada yang bilang 700), semua atau hampir semua berbahasa Jawa. Kata-katanya bagus-bagus, ungkapan hati, penuh kedalaman.
Umpamane kowe uwis mulyo Lilo aku lilo Yo mung siji dadi panyuwunku Aku pengin ketemu Senajan sak kedeping moto Kanggo tombo kangen jroning dodo (dari lagu Sewu Kutho)
Terasa agak aneh, meski lagu berbahasa Jawa dan genre campur sari, tapi fans mudanya banyak banget, ada Sadboy, Sadgirl. Mungkin karena temanya kebanyakan tentang hati, tentang dukacita, tentang patah hati… sampai dia dijuluki The Godfather of Broken Heart. Krn itu pula fansnya menyebut diri: sobat ambyar. Ambyar berarti: hancur berkeping-keping, remuk. Dia memberi kelegaan dan tempat kepada (para lelaki) yang mau menangis karena patah hati.
Demikianlah hidup kita bisa menyentuh orang lain, melalui kasih karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Bakat, kemampuan, dll adalah dari kelahiran pertama kita, untuk berada dan menyentuh dunia ini. Kristus memberikan kelahiran kedua untuk membuat sentuhan itu sangat berarti.
Turut berdukacita bersama para sobat ambyar, bersama Indonesia.
NB: Saya menulis ini sambil melihat konser kenangan beliau di salah satu channel TV telestrial. Kami sudah sangat lama gak punya saluran TV telestrial, gak ingat udah berapa tahun, maybe 6-10 tahun atau malah lebih. Tapi demi melihat konser kenangan alm Didi Kempot ini, akhirnya saya nyalakan tv dan rupanya/syukurnya ada saluran terestrial.
Terjemahan text di gambar: Apapun yang menjadi masalahmu, kuat atau enggak kuat, kamu harus kuat; tetapi misalnya kamu benar-benar enggak kuat lagi, ya tetap harus kuat.
Jadi, jika kita masih ada nafas, itu tandanya kita masih diberi kesempatan menikmati kasih-Nya di bumi ini, dan meneruskan kasih itu kepada dunia ini.
Mzm 91:1-2 Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”
Hari ini Sabtu 11 April 2020, dini hari, ada info dari banyak orang (di Depok, Bogor, Jakarta, Bekasi, Tangerang) yang mendengar suara dentuman dalam kurun waktu cukup lama (1-3 jam). Saya tidak mendengarnya, tidur cukup pulas.
Kita hidup di bumi dan semesta yang ajaib, indah, penuh misteri, dst… dst… Harapkan akan banyak kejadian alam yang mungkin belum bisa dimengerti. Ilmu dan Hikmat akan menolong kita melewati semua itu. Bukan saja melewati, tapi hidup di dalamnya.
Saya ingat suatu candaan ketika SMA. Kami ada retreat, dan salah satu topik sesi judulnya: Dunia Menjerit, Apa Jawabmu. Seperti biasa anak-anak SMA, pasti ada yang suka usil. Salah satu teman usil saya itu skrg kerja di Uni PBB (kira-kira itulah, lupa persisnya). Dia berkata: dunia menjerit, apa jawabmu? ikut menjeriiittt!! 😊
Ya, realitanya, kita juga gentar dan ikut menjerit dan takut. Tapi Tuhan beserta dan menuntun kita… sampai suatu titik, kita merasa damai sejahtera yang melampaui segala akal. Mungkin kita akan kena bahaya juga seperti orang lain, mungkin kita selamat, … tapi apapun yang terjadi, kita aman. Karena Kristus sudah mengalahkan maut, maka maut tidak lagi berkuasa atas kita. Dipanggil pulang pun, kita bersama Dia. For me to live is Christ, to die is gain.
Jadi, jika kita masih ada nafas, itu tandanya kita masih diberi kesempatan menikmati kasih-Nya di bumi ini, dan meneruskan kasih itu kepada dunia ini.
Kekurangan, tetapi berlebihan. Terlihat kurang uang, tetapi bisa memberi.
Kisah di no (1), apakah bisa disebut kekurangan? Saya kira belum kekurangan, ya… masih makan tiga kali sehari, full sebulan…
Tahun kedua (pindah kost ke Cisitu Lama, mirip asrama tapi hanya 1 lt, namanya Angsa Putih), pengalaman saya lebih seru. Seingat saya, uang dari kampung makin seret, saya harus cari tambahan uang dengan ngelesin. Kadang ada hari tidak punya uang untuk makan.
Suatu hari, saya berdoa: Tuhan, hari ini sudah tidak ada uang (atau tidak cukup uang untuk makan lengkap), tetapi saya ingin makan (spt biasa). Believe it or not, hari itu di luar ada yang berteriak: “Hari ini saya tidak makan jatah (lagi puasa kali), siapa mau makan jatah saya!!!” Ya, waktu itu ada pembantu yang masak buat seisi kost-kostan itu. Alhamdulillah, saya bisa makan sesuai keinginan. hahaha
Meski kadang kekurangan, tetapi semangat Pantekosta tetap membara. Someday, ibadah di GSJA Jl Merdeka, ada sesuatu (maybe tantangan atau apa lupa), dan saya tergerak memberi. Saya rogoh kantong saya, … ah masih ada satu lembar 10rb-an. Saya berikan semua…. Dan saya pulang jalan kaki sampai Cisitu, 5km, … dan lapar! 😁
Kekurangan, tetapi berlebihan. Terlihat kurang uang, tetapi bisa memberi.
Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.
Saya ingat satu hal menarik. Waktu saya tingkat 1 kuliah, saya hidup miskin (sampai sekarang sih, hahaha)… Uang saya secara normal hanya 40rb sebulan. Dengan cara seperti apa saya hidup dengan uang segitu?
Sebagai orang Pantekosta, saya disiplin: 4 ribu untuk persembahan (Nav 2rb, gereja 2rb hehe), dan dilakukan duluan, bukan sisa. Sebagai anak ibu yang baik, meski miskin, tetap harus makan 3 kali sehari (kebiasaan orok): makan pagi nasi + 1 tomat buah + kecap + kuah (200 rp), makan siang nasi + sayur + telor/ayam (500 rp), makan malam nasi + sayur + tahu/tempe (300 rp). Kira-kira begitulah. Harus cari warung yang murah, sampai pelosok Lebak Gede (yang sekarang Sabuga ITB).
Sisanya 6 rb. Kalau kondisi agak turun atau tantangan berat (seperti pas ospek) beli CDR (tidak tahu darimana ide beli CDR ini), waktu itu harganya 2 rb. Kalau ada sisa lagi ya fleksibel.. maybe beli susu.
Tahun pertama itu tahun paling sehat. Karena itu, bagian bacaan ini jadi candaan pribadi. Karena kesehatan bukan tentang makanan yang wah, tetapi hati yang wah. 🙂
Dan 1:12-15 “Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.” Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.
Saya mengalami, tahun pertama itu tahun paling sehat… :). Semangat pegang peran penting…