Tidur/Ditidurkan

Tuhan kiranya menghiburkan keluarga yang ditinggalkan. Tuhan kiranya hadir dalam peristiwa sulit yang dibuat manusia. 

Dalam terjemahan ini, Lazarus yang meninggal dituliskannya: tidur/tertidur.

These things said he: and after that he saith unto them, Our friend Lazarus sleepeth; but I go, that I may awake him out of sleep.

John 11:11

Dalam ayat/kejadian yang berbeda ini (Stefanus mati karena dirajam batu), kata yang dipakai sama: jatuh tertidur.

And he kneeled down, and cried with a loud voice, Lord, lay not this sin to their charge. And when he had said this, he fell asleep.

Act 7:60

Dari kamus, kata “koimaō” bisa berarti “to cause to sleep, put to sleep”.

Kalau orang sakit lalu meninggal dengan tenang, kita bisa lebih menerima jika dimetaforakan: tidur. Tetapi jika orang meninggal karena dirajam, tapi juga dipandang dia ditidurkan, itu lebih luar biasa.

Kita percaya, saudara/saudari kita yang meninggal karena perang juga sedang tidur/ditidurkan. Tuhan kiranya menghiburkan keluarga yang ditinggalkan. Tuhan kiranya hadir dalam peristiwa sulit yang dibuat manusia. 

Bermalam Dalam Naungan

Jadi, jika kita masih ada nafas, itu tandanya kita masih diberi kesempatan menikmati kasih-Nya di bumi ini, dan meneruskan kasih itu kepada dunia ini.

Mzm 91:1-2  Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” 

Hari ini Sabtu 11 April 2020, dini hari, ada info dari banyak orang (di Depok, Bogor, Jakarta, Bekasi, Tangerang) yang mendengar suara dentuman dalam kurun waktu cukup lama (1-3 jam). Saya tidak mendengarnya, tidur cukup pulas.

Kita hidup di bumi dan semesta yang ajaib, indah, penuh misteri, dst… dst… Harapkan akan banyak kejadian alam yang mungkin belum bisa dimengerti. Ilmu dan Hikmat akan menolong kita melewati semua itu. Bukan saja melewati, tapi hidup di dalamnya.

Saya ingat suatu candaan ketika SMA. Kami ada retreat, dan salah satu topik sesi judulnya: Dunia Menjerit, Apa Jawabmu. Seperti biasa anak-anak SMA, pasti ada yang suka usil. Salah satu teman usil saya itu skrg kerja di Uni PBB (kira-kira itulah, lupa persisnya). Dia berkata: dunia menjerit, apa jawabmu? ikut menjeriiittt!! 😊

Ya, realitanya, kita juga gentar dan ikut menjerit dan takut. Tapi Tuhan beserta dan menuntun kita… sampai suatu titik, kita merasa damai sejahtera yang melampaui segala akal. Mungkin kita akan kena bahaya juga seperti orang lain, mungkin kita selamat, … tapi apapun yang terjadi, kita aman. Karena Kristus sudah mengalahkan maut, maka maut tidak lagi berkuasa atas kita. Dipanggil pulang pun, kita bersama Dia. For me to live is Christ, to die is gain.

Jadi, jika kita masih ada nafas, itu tandanya kita masih diberi kesempatan menikmati kasih-Nya di bumi ini, dan meneruskan kasih itu kepada dunia ini.

Tetap semangat oleh kekuatan Tuhan.

To Live is Christ To Die is Gain

Tetapi kondisi hidup adalah lebih berguna. Itulah tujuan Tuhan menurunkan kita di dunia, ada suatu rencana atas kehadiran kita, suatu pekerjaan baik, tempat kita di dunia ini. Sesuatu yang besar dan berarti. Karena itu kita punya semangat hidup, punya semangat untuk sembuh jika sakit, punya semangat untuk menghindar dari malapetaka/bahaya/maut. Bukan karena kita takut mati, tetapi karena yakin masih ada pekerjaan untuk kita kerjakan.

Fil 1:21  Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 

Seperti semangat kawan-kawan, kematian tentunya bukan masalah bagi orang percaya. Tetapi proses untuk punya sikap “bukan masalah” ini bagi sebagian/banyak orang tidaklah mudah, perlu waktu dan pergumulan panjang, dan mungkin berkali-kali. Ada banyak yang dipikirkan: apakah hidup saya telah berkenan? bagaimana suami/istri, anak saya, mimpi saya? dst…

Kita akan dituntun Tuhan sampai pada titik berserah dan damai sejahtera.

Tetapi kondisi hidup adalah lebih berguna. Itulah tujuan Tuhan menurunkan kita di dunia, ada suatu rencana atas kehadiran kita, suatu pekerjaan baik, tempat kita di dunia ini. Sesuatu yang besar dan berarti. Karena itu kita punya semangat hidup, punya semangat untuk sembuh jika sakit, punya semangat untuk menghindar dari malapetaka/bahaya/maut. Bukan karena kita takut mati, tetapi karena yakin masih ada pekerjaan untuk kita kerjakan.

Ef 2:10  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

We have become his poetry, a re-created people that will fulfill the destiny he has given each of us, for we are joined to Jesus, the Anointed One. Even before we were born, God planned in advance our destiny and the good works we would do to fulfill it! (The Passion)

Tetapi yang menentukan itu bukan kita, melainkan Tuhan. Kita merasa masih perlu, tetapi Tuhan mungkin berkata: cukup. Kapan kita tahu cukup? Ya kalau udah meninggal. Kalau belum meninggal, berjuanglah supaya tetap hidup. Hindari bencana, cegah kemungkinan sakit, usahakan kesehatan, dst. Kesehatan bagian kita, umur bagian Tuhan (begitu kata seorang kawan). Dan nikmatilah hari demi hari, jam demi jam, saat demi saat dalam Dia sepenuhnya… 24/7 hidup kita adalah di dalam Dia.

Ams 27:12  Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

Mari kita saling dukung satu sama lain… Tetap semangat.

Salah satu lagu favorit ketika SMA, versi sedikit berbeda.