Memberkati Orang Yang Mengikuti

Bil 10:32  Jika engkau ikut bersama-sama dengan kami, maka kebaikan yang akan dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu.

Hobab, ipar Musa, selama ini mengikuti Musa dan rombongan, keluar dari Mesir. Dan saat ini, rombongan menuju ke tanah yang dijanjikan. Hobab minta izin untuk pulang ke negerinya dan ke sanak saudaranya. Tetapi Musa minta dengan sangat supaya Hobab tetap bersama mereka, membantu mereka dengan keahliannya berkemah di padang gurun (mungkin juga semacam navigasi di padang gurun).

Dan Musa berkata/berjanji, bahwa kebaikan yang Tuhan Tuhan akan lakukan kepada bangsa Israel, akan dilakukan Musa juga kepada Hobab.

Demikianlah kita, dalam perjalanan kita di dunia ini, akan ada orang-orang yang mengikuti kita, apakah itu anak kita, anggota keluarga besar, teman-teman yang ngenger di rumah kita, atau siapa saja di sekitar kita.

Berkat yang Tuhan berikan kepada kita, hendaklah kita teruskan kepada mereka. Begitulah Tuhan terus menerus memberkati semua orang generasi demi generasi, dari satu orang kepada banyak orang.

Komitmen dan Keindahan

Anak-anak muda sekarang bertanya: mengapa saya harus menikah jika tidak ada keindahan dalam pernikahan? Tapi apakah keindahan itu otomatis ada dalam pernikahan?

Anak-anak muda sekarang bertanya: mengapa saya harus menikah jika tidak ada keindahan dalam pernikahan? Tapi apakah keindahan itu otomatis ada dalam pernikahan? Keindahan sudah didesain, tapi perlu diupayakan. Dan perlu komitmen untuk keindahan itu berkembang.

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. (Kej 2:18,22-25)

Pernikahan (dan secara umum: hubungan antar manusia) adalah desain dasar Tuhan. Dia merencanakan/menciptakan/merindukan suatu hubungan kasat mata di bumi ini yang menyatakan keindahan hubungan di antara “KITA” (Kej 1:26). Segala yang diciptakan-Nya adalah: sungguh amat baik. (1:31)

Komitmen kita adalah komitmen kepada Firman Tuhan/Kristus sendiri, dan komitmen pada pasangan sesuai yang dinyatakan Kristus. Tanpa suatu patokan dasar bagi hidup kita, kita tidak akan jelas kemana arah hidup kita. Inilah patokan itu: sekali ditetapkan dan diyakini (this is flesh of my flesh, bone of my bone), sudah titik.. itulah yang terbaik.

Keindahan adalah subjektif dan perseptif. Dengan kasih, kita akan melihat keindahan orang lain/pasangan kita apapun keadaannya. Latihlah otak/pikiran untuk bisa melihat dan menikmati keindahan itu.

Note: Ini diskusi pranikah dengan satu pasang kawan, 21 April 2019. Obrolannya lebih dari 2 jam, banyak sekali pernak-pernik detailnya, rupanya sulit menuliskannya. 🙂

Ketabahan Ibu

Now faith, hope, and love remain—these three things—and the greatest of these is love.

Mestinya judulnya ketabahan orang tua. Tapi mengamati banyak praktek, akhirnya judul Ketabahan Ibu ini lebih cocok lah. Ayah dan ibu, keduanya punya ketabahannya sendiri, tapi kali ini, yang saya lihat dan akan ceritakan adalah ketabahan ibu.

Saya melihat seorang ibu, yang pernah berkarir, lalu keluar dari kantornya untuk anak-anaknya yang baru lahir/masih kecil. Lalu ibu ini ngantor lagi, tapi tak setahun keluar lagi, sambil menantikan anak ke-3 lahir.

Melihat seorang ibu hari demi harinya, jam demi jamnya, saat demi saatnya menemani dan menyertai anak-anak kecilnya… adalah sesuatu yang menakjubkan. Ibu punya ketabahan yang luar biasa.

Saya bermain hanya/ndak sampai sejam… bermain lego dengan anak ini. Bayangkan, ini hanya sejam… lah seorang ibu yang di rumah? Dengan 2 anak? Luar biasa tabahnya.

Sangat bersyukur, ada keindahan-keindahan di dalam hati yang Tuhan berikan yang membuat semua itu terjadi.

Istri saya pernah mengalaminya… dan aneh rasanya, itu semua rupanya telah dilalui. Seperti tak terasa waktu berlalu….

Now faith, hope, and love remain—these three things—and the greatest of these is love. (1 Corinthians 13:13 CEB)

Tambahan ilustrasi: 😁

Mbak-mbak yang Baik

Jadi, untuk saat ini ada tiga hal yang kita harus tetap lakukan: percaya, berharap dan saling mengasihi. Yang paling penting dari ketiganya itu ialah mengasihi orang-orang lain.

Belum lama ini kami mampir ke rumah kawan, pada jam kantor. Tentulah kawan kami, suami istri, tidak berada di rumah. Mereka bekerja di kantor, instansi.

Tapi ada 3 anaknya yang manis-manis, 2 wanita mengapit satu cowok ganteng, pancuran kapit sendang. Kebetulan 2 anak yang besar lagi agak demam jadi enggak sekolah. Jadi kami ada waktu sedikit chit chat dengan anak-anak ini.

Kedatangan kami sudah diketahui sebelumnya. Jadi 2 mbak-mbak yang membantu di rumah menyambut kami dengan baik. Mereka sudah pernah tahu kami.

Mbak-mbak ini ramah, hormat (tapi tidak berlebihan, sewajarnya alias pas), mau ngobrol dengan baik. Anak-anak kelihatan nyaman dengan mereka.

Apa kira-kira faktor yang membuat mbak-mbak itu seperti itu?

Tentu banyak faktor. Dan saya berandai-andai, bahwa hal-hal berikut ini turut menyumbang:

  1. Mereka di-wong-ke. Hubungan itu bukannya hanya hubungan kerja, tapi hubungan orang ke orang. Itu berarti ada kasih, keramah tamahan dari tuan rumah. Bahkan dalam banyak kejadian, dan itu typical di Indonesia, mereka dianggap keluarga sendiri. Jadi, seringkali, jika waktu/hubungan kerja sudah cukup lama, perhatian tuan rumah itu menjangkau juga ke keluarga besar mbak-mbak itu. Makin mantap saja. Ini Indonesia, bung!
  2. Mereka menerima haknya khususnya gaji. Dan bahkan dalam banyak kejadian, mereka bisa jadi menerima lebih dari haknya.
  3. …. Apalagi kemungkinannya? 😊 Mohon menambahkan di bagian komentar.

Jadi, kami pun merasa mbak-mbak kawan ini seperti saudara lah. #lebaydotcom

Semoga kasih sayang semakin utama terjadi dimana-mana, karena buahnya indah sekali.

Jadi, untuk saat ini ada tiga hal yang kita harus tetap lakukan: percaya, berharap dan saling mengasihi. Yang paling penting dari ketiganya itu ialah mengasihi orang-orang lain. (1 Korintus 13:13 BIMK)

Babak Baru Kehidupan

Cengkareng, 7 Feb 2018

Hidup adalah perjalanan. Ada babak-babak kehidupan yang berganti. Setiap pergantian babak, ada sesuatu yang berubah. Kita harus beradaptasi dengan setiap perubahan. Dan ada hal baru yang bisa kita kerjakan.

Dengan kepergian Soko, mulailah babak baru lagi dalam kehidupan ini.

Bagi Soko, ini adalah lompatan besar. Tapi setiap lompatan besar, sebenarnya harus/sudah dilatih dengan lompatan-lompatan kecil sebelumnya. Jangan berharap bisa melompat jauh jika belum terlatih dengan lompatan kecil.

Lompatan kecil itu apa saja? Mungkin itu adalah memilih warna celana kesukaannya, memasang tali sepatu sendiri, naik sepeda roda 4, memilih SMP, belajar naik sepeda roda 2 (meski telat), belajar nyeberang Jl. Tole Iskandar, belajar nyeberang Jl. Margonda (jangan kira ringan, ini jalan telah makan berapa nyawa), memilih SMA, belajar naik motor (meski telat), belajar naik bus kota/krl, memilih kampus, belajar nyetir mobil, pergi ke kota anu, pergi nyeberang pulau, ke luar negeri, dll. (Apakah anak-anak atau keponakan kalian biarkan nyaman, atau melatihnya melewati semua itu dengan baik? Itu akan menentukan masa depannya.)

Bagi kami. Ah, rasanya nano-nano….